JAKARTA, DELITIMES.ID – Banyak pengamat menyebut, bahwa pemenang Pilpres 2024 sangat dipengaruhi oleh limpahan suara pendukung Jokowi.
Pendukung, kata mereka, bukan hanya pemilih di Pilpres 2029 lalu. Tapi juga mereka yang bukan pemilihnya, namun berbalik mendukung usai melihat kinerja Jokowi.
Dalam hal ini, Menhan Prabowo Subianto sepertinya mulai unggul atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam mendapatkan limpahan dukungan dari tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi.
Berdasarkan hasil riset LSI Denny JA pada 30 Mei hingga 12 Juni 2023, angka dukungan dari tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi untuk Ganjar Pranowo mulai bergeser ke Prabowo Subianto.
“Jika dilihat sejak dari survei Januari dan Maret 2023, pada survei Juni 2023 untuk pertama kalinya yang puas terhadap kinerja Jokowi lebih banyak memilih Prabowo dibanding Ganjar,” ungkap Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, dalam paparan hasil riset di Jakarta, Senin (19/6/2023).
Adjie memaparkan, pada survei Januari 2023, Ganjar unggul atas Prabowo dengan 53,2 persen vs 29,7 persen. Pada Survei Maret 2023, Ganjar unggul atas Prabowo dengan 47,8 persen vs 35,8 persen. Lalu, pada survei Juni 2023, Prabowo unggul atas Ganjar dengan 43,3 persen vs 42,3 persen.
Petugas Partai
Dia menjelaskan empat alasan mengapa kepuasan atas kinerja Presiden Jokowi bergeser dari Ganjar ke Prabowo.
Pertama, publik menilai untuk kasus Piala Dunia U-20, Ganjar lebih patuh pada Megawati ketimbang Jokowi, yang saat itu tak mempermasalahkan kehadiran Timnas Israel.
Kedua, Ganjar juga di-branding sebagai petugas partai. Hal itu membuat Ganjar dianggap lebih dikendalikan oleh Megawati, bukan oleh Jokowi.
Ketiga, kedekatan emosional dan kecocokan Prabowo dengan Jokowi dan keluarganya yang terbaca oleh publik luas.
Keempat, Prabowo bisa langsung deal dengan Jokowi soal apa pun. Sementara, Ganjar perlu ada perantara partai karena posisinya sebagai petugas partai.
Menurut Adjie, mayoritas masyarakat tidak setuju presiden sebagai petugas partai. Di mana 69,9 persen publik menyatakan kurang setuju/tidak setuju sama sekali dan hanya 17,5 persen yang setuju.
Mayoritas semua pemilih partai juga tidak setuju dengan presiden petugas partai. Bahkan, pemilih PDIP mayoritas tidak setuju dengan presiden petugas partai dengan 78 persen.
Lalu, pemilih Gerindra dengan 71,6 persen, Golkar (75, 4 persen), PKB (64,7 persen), NasDem (68,1 persen), Demokrat (76,5 persen), PKS (81,3 persen), PAN (76,7 persen), dan PPP (60 persen).
“Dari sisi pemilih tiga capres, Ganjar unggul di pemilih yang setuju dengan presiden petugas partai dengan 49,1 persen. Prabowo unggul di pemilih yang tidak setuju presiden petugas partai dengan 40,3 persen,” ungkap Adjie.
Secara ‘head to head’, Ganjar unggul telak atas Anies di pemilih yang setuju dengan presiden petugas partai (68,7 persen vs 15 persen). Di pemilih yang tidak setuju presiden petugas partai, Anies yang unggul dibandingkan dengan Ganjar (41,1 persen vs 40,4 persen)
Sedangkan, Prabowo unggul atas Anies di pemilih yang setuju maupun tidak setuju presiden petugas partai.
Pada pemilih yang setuju presiden petugas partai, Prabowo unggul atas Anies dengan 50 persen vs 30,7 persen. Di pemilih yang tidak setuju, Prabowo unggul atas Anies dengan 53,1 persen vs 32,2 persen
Sementara, Prabowo unggul atas Ganjar di pemilih yang tidak setuju presiden petugas partai (46,0 persen vs 38,1 persen). Pada pemilih yang setuju dengan presiden petugas partai, Ganjar unggul atas Prabowo (53,6 persen vs 35,7 persen).
Riset terbaru LSI Denny dilakukan dengan survei tatap muka (face to face interview) menggunakan kuesioner kepada 1.200 responden di seluruh Indonesia dengan margin of error 2,9 persen.
Selain survei dengan metode kuantitatif, LSI Denny JA juga memperkaya informasi dan analisa dengan metode kualitatif, seperti analisis media, in-depth interview, expert judgement dan focus group discussion. (RED)
























