BERASTAGI merupakan kota yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kota ini yang menjadi salah satu tempat destinasi wisata populer yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Berastagi bukan hanya memiliki tempat wisata yang indah, melainkan memiliki daya tarik dari berbagai produk, di antaranya buah-buahan segar, makanan ringan, hingga produk-produk kerajinan tangan khas yang bernuansa budaya di Indonesia.
Minggu, 20 Oktober 2024 lalu, saya telah melaksanakan kunjungan di Kota Berastagi, tepatnya Pasar Buah Berastagi. Saya menemukan beberapa produk kreatif yang unik dan menarik sehingga menarik perhatian para pengunjung wisatawan lokal dan mancanegara di antaranya adalah:
Tas Batok Kelapa
Tas menjadi bagian penting dalam dunia fashion,dan menjadi alat penyimpanan barang yang dapat dibawa kemana saja. Tas batok kelapa ini menjadi salah satu produk khas kerajinan tangan yang berasal dari Jawa Timur.
Tas ini terbuat dari tempurung kelapa dengan memiliki karakteristik pontensial dari bahan baku alami sehingga dapat menjadikan tas berbahan
kuat, awet, dan tahan air.
Para pengrajin daerah Jawa Timur memanfaatkan bahan baku material dengan mempaduhkan kelapa muda dan tua agar perbedaan warna menjadi lebih menarik dan bernilai keindahan.
“Tas ini diperjualbelikan di Berastagi dengan harga Rp200 ribu, hingga sering sekali laku dibeli oleh wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke sini,“ ujar Murni, salah seorang pegawai aksesoris di Berastagi.
Murni pun mengungkapkan, bahwa produk Berastagi bukan hanya berasal dari Kota Berastagi Sumatera Utara saja, tetapi juga menjadi tempat produk khas kerajian tangan yang berasal dari daerah-daerah di indonesia yang bernilai tinggi dan menarik para pengunjung yang datang ke Berastagi.
Gelang Tiga Rupa (Bonang Manalu Batak)
Gelang Tiga Rupa merupakan gelang yang berasal dari Suku Batak yang berada di Sumatera Utara yaitu, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Pakpak, dan Batak Angkola/Mandailing.
Gelang ini memiliki tiga warna benang, dalam istilah Batak Toba disebut ‘Bonang Manalu’, yang berwarna putih, merah, dan hitam. Ketiga warna ini merupakan warna dominan utama Suku Batak.
Warna putih, merah, dan hitam pada Gelang Tiga Rupa mempunyai arti dan makna sebagai berikut: Putih melambangkan kesucian, kebenaran, dan kejujuran. Merah melambangkan keberanian, dan kekuatan. Hitam melambangkan kewibawaan dan kepemimpinan,
Dahulu bagi Suku Batak Toba simbol ‘Bonang Manalu’ menjadi suatu pelindung dari ‘Debata Mulajadi Nabolon’ bagi si pemakai. Maka itu dari bayi hingga dewasa pun masih memakai Gelang Tiga Rupa ini.
Namun di era globalisasi sekarang, gelang ini sudah menjadi aksesoris yang diperjualbelikan di daerah Berastagi yang sangat diminati para wisatawan. Gelang ini bukan hanya terlihat cantik untuk dipakai melainkan menjadi penanda identitas suatu Suku Batak yang berada di Sumatera Utara.
Para wisatawan sering membeli produk aksesoris ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai oleh-oleh, souvenir, dan, lain sebagainya.
Jadi produk aksesoris Bonang Manalu ini akan selalu bertambah banyak, karena suatu penghasilan masyarakat ada di aksesoris ini.
Harga aksesorisnya Gelang Tiga Rupa bisa dilihat tergantung besar serta tebalnya Bonang Manalu yaitu, sekira Rp5.000-10.000/satu gelang.
Dengan kedua produk dalam perbedaan wilayah bukan menjadi penghambat bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi dari perbedaan dapat menyatukan budaya lokal yang memiliki nilai produk kreatif kerajianan tangan khas yang menjadi reputasi tinggi lebih dikenal dan dapat menambah semangat bagi para pengrajin.
Dengan menyikapi pada berbagai produk kerajinan khas daerah di Indonesia menjadikan alat untuk melestarikan dan menjaga adat istiadat budaya yang diturunkan oleh nenek moyang dahulu hingga dapat menjadikan harta yang sangat berharga. Serta menarik perhatihan wisatawan lokal maupun mancanegara, agar dapat memperkenalkan secara luas produk-produk khas kerajinan tangan yang berada di Indonesia. (penulis: Febriola Hutauruk/Fakultas Ilmu Budaya USU – Prodi Sastra Batak)
















