MEMBICARAKAN Kebudayaan Batak, seolah-olah tidak ada habisnya. Mulai dari makanan, istiadat, sampai bentuk kesenian.masyarakat Batak Toba.
Namun ada satu bentuk kesenian yang jarang ditemukan pada masa kini. Namanya Kalung Cicak yang terbuat dari batok kelapa yang diukir menjadi kesenian Batak Toba. Ini sebuah kesenian yang diambil dari simbol keberanian, ketahanan, serta perlindungan bagi pemakainnya.
“Kalau Kalung Cicak itu sebuah simbol dalam Batak toba. Nah kalau ini terbuat dari potongan batok kelapa yang telah dipoles halus dan dibentuk sedemikian rupa,” kata seorang pengrajin.
Kemudian banyak konsumen mengatakan, Kalung Batak ini dibuatkan kalung. Menurut mereka di dalam Seni Batak ini memang selalu ada makna tertentu serta mengandung filosofi mendalam, yakni sebagai simbol keberanian, ketahanan, dan perlindungan bagi pemakainnya.
Di zaman sekarang, kerajinan Kalung Cicak dari batok kelapa ini tidak hanya menjadi barang pelengkap budaya, tetapi juga sebagai komoditas ekonomi bagi kalangan bawah, meskipun tantangan pasar dan perkembangan teknologi terus berubah.
Namun di balik perkembangan zaman, tantangan utama yang dihadapi adalah kelestarian bahan baku, yakni batok kelapa.
Selain itu, masyarakat di daerah Batak diharapkan dapat lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Seiring meningkatnya minat pasar, para seniman dan pengrajin Batak Toba juga telah memanfaatkan platform digital untuk mempromosikan produk
mereka, sehingga karya seni tradisional ini dapat dikenal lebih luas.
Upaya ini dapat melestarikan warisan Budaya Batak Toba agar tetap hidup dan berkembang di era modern. (Penulis: Andreas Alessandro Hutagalung/Fakultas Ilmu Budaya USU – Prodi Sastra Batak)


















