TIDAK semua orang yang tersenyum di depan kita benar-benar mendukung kita. Ada orang yang berani menyampaikan ketidaksetujuannya secara langsung, dan meskipun terkadang tidak nyaman didengar, sikap seperti itu justru lebih jujur. Dari mereka, kita masih bisa berdiskusi, memahami perbedaan, dan memperbaiki kesalahan jika memang ada.
Masalah sering muncul dari mereka yang menyimpan ketidaksetujuan dalam diam. Mereka tidak mengatakan apa pun di depan kita, tetapi menyampaikan keluhannya kepada orang lain. Mereka tidak mengkritik secara terbuka, tetapi diam-diam menumbuhkan rasa tidak suka. Akibatnya, kesalahpahaman semakin besar karena tidak pernah dibicarakan secara langsung.
Kejujuran memang membutuhkan keberanian. Mengatakan ‘saya tidak setuju’ sering kali lebih sulit daripada berpura-pura setuju. Namun hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan, pekerjaan, maupun organisasi, hanya bisa tumbuh jika ada keterbukaan. Tanpa itu, kepercayaan perlahan akan terkikis.
Karena itu, ketidaksetujuan bukanlah hal yang perlu ditakuti. Yang perlu diwaspadai adalah ketidaksetujuan yang disembunyikan di balik sikap manis dan diam. Sebab kritik yang disampaikan secara terbuka masih memberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan, sedangkan ketidakjujuran sering kali menjadi awal dari konflik yang tidak terlihat datangnya.
Penulis mengutip dari dari pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Manusia Indonesia’.
Dalam pidato tersebut, Mochtar Lubis merinci enam sifat utama manusia Indonesia, di mana sifat hipokrit atau munafik diletakkan sebagai poin nomor satu.
– Sifat Munafik / Hipokrit atau Berpura-pura: Suka menampilkan sikap yang berbeda antara yang diucapkan di muka (depan) dan kenyataan di belakang.
– Tidak jujur pada diri sendiri : Bersikap seolah-olah suci atau benar, namun melakukan praktik yang bertentangan secara diam-diam.
– Akar feodalisme : Mochtar Lubis menyebut sifat ini lahir dari tekanan sistem feodal masa lalu yang membuat rakyat terpaksa berpura-pura demi keselamatan atau mencari muka.
Sementara itu, Taufiq Ismail memang dikenal lewat karya-karya kritiknya terhadap moralitas dan kondisi sosial politik bangsa, salah satunya melalui buku puisi kontroversial berjudul ‘Malu Aku Jadi Orang Indonesia’. (***)














