Gelombang aksi juga melanda beberapa negara Eropa. (foto/CNBC)

Selain Prancis, 4 Negara Eropa Lainnya Juga Chaos Dihantam Kerusuhan

JAKARTA, DELITIMES.ID – Ternyata bukan hanya Prancis. Geombang kerusuhan dan aksi protes juga terjadi di Albania, Italia, dan Belgia. Sementara Portugal diguncang demonstrasi besar terkait tekanan ekonomi dan perumahan.

Gelombang demonstrasi itu diakibatkan mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, buruknya layanan publik, hingga tuduhan korupsi. Gelombang aksi tersebut memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Namun, tingkat kekerasan di setiap negara berbeda. Bentrokan dengan aparat dan penjarahan dilaporkan terjadi di Albania, Italia, serta Belgia. Sedangkan demonstrasi di Portugal yang dilaporkan dalam pemberitaan berlangsung secara damai.

Berikut rangkaian demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi di Albania, Italia, Belgia, dan Portugal, dikutip dari CNBC, Senin (19/10/2026):

  1. Albania: Demonstrasi Korupsi Berujung Bentrokan:

Perdana Menteri Albania Edi Rama menghadapi tekanan besar setelah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung selama enam hari berturut-turut. Para demonstran menuntut pengunduran dirinya, dipicu kemarahan atas dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.

Aksi di ibu kota Tirana dan sejumlah kota lain berubah menjadi bentrokan. Demonstran membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta mencabut batu paving untuk dilemparkan ke arah polisi.

Pada Hari Minggu (18/10/2026), ribuan orang kembali berkumpul di depan Kementerian Pendidikan dan melemparkan batu kepada aparat yang membalas dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Rama menolak desakan mundur dan menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa (UE).

“Yang sedang ditantang bukan saya, bukan pemerintah, bukan mayoritas pemerintah atau partai pemenang pemilu, melainkan sebuah jalan dan sebuah misi,” kata Rama dalam siaran langsung melalui Facebook, seperti dikutip Reuters.

Komisi Eropa mengecam kekerasan di Tirana dan kota-kota lain, tetapi tetap mendukung hak masyarakat untuk berunjuk rasa secara damai. Menurut kepolisian, sebanyak 388 orang telah dikenai dakwaan pidana terkait demonstrasi tersebut, sementara puluhan polisi dan demonstran dilaporkan terluka. Albania sendiri menargetkan keanggotaan UE pada 2030.

  1. Italia: Polisi Hadapi Demonstran, Toko Dijarah:

Kerusuhan juga terjadi di Italia ketika demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke sejumlah kota. Pada Minggu, polisi di Milan bentrok dengan demonstran yang melempar batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza Duomo, kawasan pusat kota.

Aparat antihuru-hara menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Sejumlah sumber yang mengetahui penyelidikan mengatakan kepada Reuters bahwa lebih dari 60 demonstran dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sehari sebelumnya, bentrokan serupa terjadi di Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin, dengan 28 orang ditangkap.

Peristiwa tersebut mengingatkan pada kerusuhan di negara tetangga, Prancis, ketika ratusan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan penurunan kualitas layanan publik. Aksi di Italia menjadi bagian dari gelombang demonstrasi yang menyoroti tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Eropa.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut. Pemerintahannya menjadwalkan pertemuan pada Senin untuk membahas langkah penanganan situasi, di tengah persiapan menghadapi pemilu tahun depan.

  1. Belgia: Demonstrasi Biaya Hidup Berubah Ricuh:

Di Belgia, demonstrasi menentang biaya hidup juga berujung bentrokan antara massa dan polisi. Aksi berlangsung di Brussel dan Liege, Sabtu (17/10/2026), ketika aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran.

Di kawasan Bourse, Brussel, polisi menembakkan gas air mata setelah sejumlah anak muda melemparkan botol dan benda lainnya ke arah petugas.

Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam keras kekerasan tersebut. “Ini bukan lagi sekadar demonstrasi,” tulisnya di media sosial pada Sabtu. Ia menyebut kejadian itu sebagai ‘kekerasan murni yang terorganisasi dan berulang, dengan tujuan mengguncang masyarakat’, seraya berjanji mengambil langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban.

Sebelumnya, para pelajar sekolah menengah di Belgia juga menggelar demonstrasi terkait kenaikan biaya pendidikan. Aksi itu berlangsung di tengah protes mahasiswa di Prancis yang menyoroti kekurangan guru, buruknya fasilitas sekolah, serta ruang kelas yang terlalu padat.

Sementara itu, kerusuhan di Prancis turut membahayakan pekerja media. Kru Euronews yang meliput demonstrasi di Paris dilaporkan diserang oleh sekelompok orang yang diduga terlibat dalam penjarahan sebuah supermarket. Koresponden Euronews Estelle Nilsson-Julien mengatakan kameramennya dipukul dan mikrofon mereka berusaha direbut ketika sedang merekam kejadian tersebut.

  1. Portugal: Warga Turun ke Jalan Soal Biaya Hidup dan Perumahan:

Berbeda dengan Albania, Italia, dan Belgia, demonstrasi di Portugal yang dilaporkan pada Sabtu berlangsung dengan fokus pada tuntutan ekonomi dan sosial. Serikat pekerja yang berafiliasi dengan konfederasi CGTP bersama kelompok pejuang hak perumahan menggelar aksi di Porto, Coimbra, dan Lisbon untuk menuntut kenaikan upah, pensiun yang lebih baik, serta layanan publik yang memadai.

Aksi tersebut dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan perumahan yang semakin sulit dijangkau. Seorang juru bicara CGTP mengatakan kepada SIC Notícias bahwa kenaikan biaya hidup membuat harga kebutuhan sehari-hari menjadi sangat mahal. Sekretaris Jenderal CGTP Tiago Oliveira juga menyoroti lonjakan harga rumah dan memburuknya kualitas layanan publik.

Di Porto, demonstran berbaris dari Praça da Batalha menuju Praça D. João I. Salah satu pengorganisasi aksi, Pedro Manuel, mengatakan gerakan tersebut didukung warga dari berbagai kelompok dan tidak terikat secara kelembagaan dengan partai politik tertentu. Ia menyebut demonstrasi sebagai bentuk penolakan terhadap penyalahgunaan wewenang dan krisis yang berkepanjangan.

Tuntutan perumahan menjadi salah satu fokus utama demonstrasi. Tokoh Blok Kiri Portugal, José Manuel Pureza, mengatakan masyarakat ingin membahas hak atas tempat tinggal yang layak, termasuk kesulitan penyewa menghadapi kenaikan harga sewa dan keluarga yang semakin terbebani cicilan rumah. Meski menganggap tuntutan demonstran sebagai persoalan yang sah, Wali Kota Lisbon mengingatkan agar seluruh aksi tetap berlangsung sesuai hukum. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini