Peta seluruh dunia berwana merah dampak dari Super El Nino. (foto/Kompas)

El Nino Picu Cuaca Ekstrem di Dunia, Indonesia Alami Karhutla Terburuk Sejak 2015

JAKARTA, DELITIMES.ID – Fenomena El Nino yang terus menguat sepanjang 2026, mulai memberikan dampak besar terhadap pola cuaca di berbagai wilayah dunia.

Sejumlah negara, termasuk Indonesia, India, Amerika Serikat, China, dan Jepang, mengalami perubahan cuaca yang ditandai dengan kekeringan, kebakaran hutan, hingga meningkatnya aktivitas badai, dikutip dari Kompas, Kamis (22/10/2026).

El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada kondisi normal.

Perubahan suhu laut tersebut dapat memengaruhi pola angin dan distribusi hujan di berbagai wilayah dunia.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan El Nino akan terus menguat dan bertahan setidaknya hingga awal 2027. Fenomena tersebut juga diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026.

Dilansir dari BBC, Selasa (20/10/2026), dampak El Nino sudah terlihat di sejumlah kawasan, meskipun pengaruhnya berbeda-beda bergantung pada kondisi geografis dan pola cuaca setempat.

Di sebagian wilayah, El Nino menyebabkan kondisi lebih panas dan kering, sedangkan wilayah lain mengalami peningkatan aktivitas badai tropis.

Indonesia sendiri mengalami musim karhutla terburuk sejak 2015 Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak besar El Nino pada 2026. Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut BBC, Indonesia tengah menghadapi musim kebakaran hutan terburuk sejak 2015. Sejak Januari 2026, sedikitnya 895.657 hektar lahan telah terbakar. Luas tersebut hampir enam kali lipat wilayah Greater London dan lebih dari dua kali luas lahan yang terbakar sepanjang tahun sebelumnya, ketika tidak ada pengaruh El Nino.

Kebakaran tersebut menyebabkan kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jutaan penduduk dilaporkan terpapar kabut asap yang mengandung polutan berbahaya.

Kondisi tersebut juga mengganggu kegiatan masyarakat, termasuk menyebabkan penutupan sekolah dan peningkatan jumlah pasien di rumah sakit.

Sekitar 175.000 orang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap. Dari jumlah tersebut, lebih dari 40.000 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.

Gangguan kesehatan yang dilaporkan bervariasi, mulai dari batuk, bronkitis, hingga penyakit yang lebih serius seperti pneumonia.

Kondisi kering akibat El Nino menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran dan penyebaran api. Namun, El Nino bukan berarti menjadi penyebab langsung seluruh kebakaran, karena kebakaran hutan dan lahan juga berkaitan dengan sumber penyulut api serta kondisi pengelolaan lahan. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini