Karhutla di Penyang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. (foto/Reuters)

BMKG Petakan Risiko Karhutla di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan

JAKARTA, DELITIMES.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Oktober 2026.

Berdasarkan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sumatera, Jawa, dan Kalimantan memiliki tingkat potensi kebakaran yang bervariasi selama periode 25-31 Oktober 2026, dilansir dari demokratis.ci.id.

Informasi tersebut tercantum dalam Factsheet Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan yang diterbitkan BMKG pada 25 Oktober 2026. Pemetaan ini menggunakan Fire Weather Index (FWI) untuk menggambarkan tingkat potensi kebakaran di sejumlah kawasan.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa risiko karhutla tersebar dalam rentang kategori Rendah yang ditandai warna biru hingga Sangat Tinggi yang ditandai warna merah. Perbedaan kategori tersebut memperlihatkan bahwa tingkat potensi kebakaran tidak seragam di seluruh wilayah yang dipantau.

Sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masuk dalam kelompok wilayah yang perlu diwaspadai karena memiliki tingkat potensi karhutla tertinggi selama periode pemantauan hingga 31 Oktober 2026.

Di Pulau Sumatera, kawasan yang masuk dalam daftar tersebut mencakup sebagian wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, serta Kepulauan Bangka Belitung.

Sementara itu, di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah dipetakan memiliki potensi karhutla yang perlu diperhatikan. Cakupan wilayah yang luas ini menjadikan Jawa sebagai salah satu kawasan yang termasuk dalam pemetaan risiko BMKG.

Untuk Pulau Kalimantan, daerah yang masuk daftar risiko tertinggi meliputi sebagian wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

BMKG Soroti Sebaran Titik Api

Selain memetakan potensi kebakaran berdasarkan FWI, BMKG melaporkan adanya titik api dalam jumlah cukup banyak di beberapa bagian Indonesia. Konsentrasi titik api terpantau di Sumatera bagian selatan dan sebagian besar wilayah Kalimantan.

Pemantauan juga menemukan titik api di sejumlah kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua. Temuan tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi kebakaran hutan dan lahan yang perlu dicermati selama periode pemantauan.

BMKG turut menyoroti kondisi dinamika atmosfer yang kering dan mendukung penyebaran api. Kombinasi kondisi tersebut dengan keberadaan titik api membuat sejumlah daerah memerlukan perhatian khusus.

Wilayah yang direkomendasikan BMKG untuk mendapatkan perhatian khusus tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Daftar ini mencakup daerah yang perlu dicermati berdasarkan pemantauan titik api dan kondisi atmosfer.

Di Sumatera, daerah yang masuk dalam daftar tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Di Kalimantan, perhatian khusus diperlukan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Utara.

Untuk kawasan Sulawesi, wilayah yang tercantum meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur juga termasuk dalam daftar daerah yang perlu diwaspadai.

Di wilayah Maluku dan Papua, BMKG memasukkan Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua Selatan dalam daftar perhatian khusus.

Pemetaan BMKG untuk periode 25-31 Oktober 2026 tersebut mencakup wilayah dengan kategori potensi kebakaran berbeda-beda. Sebaran titik api dan kondisi atmosfer yang kering menjadi dasar perhatian terhadap sejumlah daerah di berbagai pulau. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini