Hari Raya Idul Adha “Mencemarkan” Sungai di kota Medan..?

Oleh Benny YUdi Purnama

Salam Lestari…!
Menjelang Idul Adha atau Idul Kurban tahun ini, Badan Kemakmuran Masjid (BKM) di berbagai daerah akan kembali disibukkan dengan serangkaian kegiatan penyelenggaraan ibadah kurban. Pada momen ini, umat Islam berlomba-lomba mengikhlaskan sebagian rezekinya untuk membeli hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun domba.

Sebagaimana kita ketahui, satu ekor kambing atau domba sudah cukup untuk mewakili satu keluarga dalam berkurban. Namun, tidak jarang satu keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak-anak yang telah berkeluarga, memilih untuk bergabung bersama dalam satu ekor sapi yang diperbolehkan atas nama tujuh orang. Penting untuk dipahami, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan berlebih-lebihan dalam beribadah, termasuk dalam berkurban. Prinsip kesederhanaan dan ketulusan tetap menjadi dasar utama.

Seperti biasa pula, menjelang pelaksanaan kurban, BKM akan membentuk panitia dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) sebagai bentuk formalitas dan tanggung jawab pengurus, termasuk dalam hal pembuatan laporan pertanggungjawaban akhir kegiatan.

Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak BKM masih kewalahan dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya terkait aspek kebersihan dan kenyamanan lingkungan masjid pasca-penyembelihan hewan kurban. Masalah seperti darah yang tercecer, kotoran hewan yang berserakan, hingga potongan daging yang tertinggal, seringkali menimbulkan bau tidak sedap, mengundang lalat hijau, bahkan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar masjid.

Akibatnya, muncul keluhan jamaah karena mencium aroma bau busuk setiap sholat,atau tetangga berselahan dengan Mesjid hingga gunjingan terhadap panitia dan pengurus masjid karena disangka kurang bersih membilasnya karena lalat berterbangan di sekitar mesjid, sering pula kita dapati bagian panitya yang khusus mencuci isi bagian perut hewan qurban kita temui berada di Sungai Deli, Sungai Belawan, dan sungai lainnya yang membelah kota Medan, hal itu menjadikan Pencemaran Massal di sungai yang menjadikan perdebatan kepada para aktifis sungai.

Sementara itu Yayasan Komunitas Siaga Bencana dan Yayasan Budaya HIjau Indonesia yang selalu mengadakan “Normalisasi kualitas air Sungai” dengan cara menaburkan Eco Enzyme berton ton liter, untuk menstabilkan kualitas fungsi air sungai dari bakteri jahat dan mempertahankan biota kehidupan di sungai tersebut setiap tahunnya merasa tidak dapat respons balik dari umat Islam atas kegiatan kami tersebut.

Sebagai Pembina Komunitas Siaga Bencana (KOGANA), berupaya mendekati para BKM dan mengajak untuk melihat permasalahan ini , lalu saya menggandeng Yayasan Budaya hijau dan Dinas lingkungan Hidup kota Medan menyuarakan metode yang kita terapkan, sebenarnya hal itu dapat diatasi dengan teknologi sederhana namun efektif tentunya dengan kinerja para aktifis lingkungan memperkenalkan Eco Enzyme.

Sebagai bukti kepada masyarakat Tahun lalu yaitu 2024, Yayasan KOGANA melalui kerja sama dengan Yayasan Budaya Hijau Indonesia — yang dipimpin oleh Bapak H.M. Surya Yusuf (Haji Batara) — telah menerapkan solusi ramah lingkungan di beberapa masjid di Medan, yaitu:

  1. Masjid Assholihin di Jalan Sei Bilah, Kelurahan Babura,
  2. Masjid Al Munawaroh di Jalan Lizardi Putra Komplek Kejaksaan,
  3. Forum Islam Bersatu yang menyelenggarakan penyembelihan di dalam kompleks sekolah.

Eco Enzyme, cairan hasil fermentasi dari buah-buahan dan sayuran. Eco Enzyme ini telah terbukti mampu:

(Salah satu Panitya Qurban Mesjid Assholihin jln Bilah menerima bantuan Eco Enzym dari Bpk.HM Surya Yusuf )

  1. Menghilangkan bau busuk dari darah dan limbah hewan,
  2. Mengurangi jumlah lalat ditempat aktifitas pemotongan Qurban,
  3. Menjaga kebersihan area penyembelihan sehingga nyaman dan steril.
  4. Menjaga kesegaran daging dari bakteri pembusuk.
  5. Mengurangi pencemran sungai sungai ataupun danau sekitar kota Medan.
  6. Membersihkan noda pada keramik atau lantai bekas darah hewan disaat pembersihan.

Metode nya pun sederhana, yakni dengan penyemprotan:

  1. Penyemprotan area sebelum dan sesudah proses penyembelihan dan pemotongan,
  2. Penyemprotan lubang pembuangan darah dan limbah organik hewan,
  3. Pemeliharaan area dengan semprotan berkala selama masa pengolahan atau penyincangan daging.
  4. Bahkan bisa menyemprotkan kepada daging qurban tersebut agar tetap fresh dan tidak berbau.
  5. Bahkan mencuci pakaian para pekerja yang terkena darah, untuk menghilangkan baunya setelah bekerja.

Para panitia kurban yang menerapkan metode ini di tahun 2024 bahkan telah memberikan testimoni positif, yang dapat disaksikan melalui akun TikTok saya atas nama Benny Kogana.

Untuk itu, saya mengajak seluruh BKM, aktivis lingkungan, dan masyarakat luas untuk:
Belajar bersama membuat Eco Enzyme melalui pelatihan singkat di tingkat kelurahan, kecamatan, atau komunitas pencinta lingkungan.
Menyebarluaskan ilmu ini sebagai bagian dari ladang amal buat kita tanpa tujuan komersial, sesuai semangat yang dibangun oleh salah satu Relawan Dunia Eco Enzyme (RDEE), yang diwakili oleh Ibu Yenny, karena masih banyak keunggulan dari Eco Enzyme ini, diantaranya sebagai pupuk, sebagai bahan pengepel lantai agar tidak banyak lalat , kecoa bahkan tikus sekalipun dirumah, dapat juga sebagai pencuci sayur mayur,buah buahan dan kadang pula bisa mengeringkan luka karena Diabetes.

Bagi yang berminat mendapatkan Eco Enzyme atau ingin belajar langsung, dapat menghubungi:

Bapak H.M. Surya Yusuf (Haji Batara) di Jalan Jemadi, atau Ibu Yenni sebagai perwakilan dari Relawan Dunia Eco Enzym.

Mari kita jadikan momentum Idul Adha bukan hanya sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga sebagai wujud nyata menjaga kebersihan, kenyamanan, dan kehormatan lingkungan masjid kita bersama Insha Allah ini sebagai jalan jihad kita”
Salam Siaga, salam Lestari….

*) Penulis adalah Pembina Komunitas Siaga Bencana Sumatera Utara

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini