KOGANA SUMUT AMBIL PERANAN bersama PT. AGRINAS

Medan, DELITIMES.ID – Di sebuah kafe yang cukup dikenal di ujung Jalan Teuku Cik Ditiro, Medan, suasana sore itu terasa hangat namun sarat makna. Pertemuan yang awalnya tampak santai, perlahan berubah menjadi diskusi serius tentang masa depan lingkungan dan ancaman kebencanaan yang kian nyata di Sumatera Utara.

Hadir dalam pertemuan tersebut, pembina KOGANA Benny Yudi Purnama bersama Direktur Eksekutif KOGANA, Herri Trisna Frianto, serta Direktur PT. Agrinas Palma Nusantara, Novil Anoverta. Ketiganya duduk satu meja, menyatukan perspektif antara komunitas, praktisi kebencanaan, dan sektor industri.

Diskusi mengerucut pada persoalan serius: maraknya pembukaan lahan liar dan praktik penyerobotan kawasan hutan lindung yang menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya risiko bencana, mulai dari banjir bandang, longsor, hingga degradasi ekosistem yang lebih luas. Dalam pandangan Benny, kondisi ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan masyarakat.

Direktur Eksekutif KOGANA menegaskan bahwa pendekatan penanganan tidak bisa lagi bersifat reaktif. Ia mengangkat salah satu tugas strategis Komunitas Siaga Bencana Sumatera Utara, yakni mendorong perbaikan lahan melalui metode zonasi potensi bencana. Metode ini menitikberatkan pada pemetaan wilayah berdasarkan tingkat kerawanan, sehingga proses rehabilitasi lahan tidak hanya memperbaiki kerusakan, tetapi juga mengurangi risiko bencana di masa depan.

Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa secara nasional, terdapat sekitar 4 juta hektar lahan yang akan dikembalikan kepada negara untuk direstorasi secara bertahap. Target ambisius ini direncanakan rampung pada akhir tahun 2026, menjadi salah satu langkah besar dalam memperbaiki tata kelola lingkungan hidup Indonesia.

Menariknya, Direktur PT. Agrinas Palma Nusantara menyambut baik pendekatan kolaboratif ini. Ia melihat bahwa dunia usaha tidak bisa lagi berdiri di luar persoalan lingkungan. Justru sebaliknya, sektor industri perlu menjadi bagian dari solusi, termasuk dalam mendukung rehabilitasi lahan dan penerapan zonasi berbasis risiko.

Di sisi lain, Herri Trisna Frianto juga menyampaikan apresiasi terhadap gagasan besar dari Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Menurutnya, kebijakan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan upaya penanggulangan bencana jangka panjang.

“Ketika generasi muda mendapatkan akses pendidikan yang lebih luas dan merata, maka akan lahir sumber daya manusia yang lebih sadar risiko, lebih paham lingkungan, dan mampu menciptakan solusi berbasis ilmu pengetahuan,” ungkapnya dalam diskusi.

Pertemuan itu pun ditutup dengan satu kesepahaman: bahwa persoalan kebencanaan akibat kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara komunitas, pemerintah, dan dunia usaha—dengan landasan ilmu, kepedulian, dan keberanian mengambil langkah nyata.

Di tengah hiruk-pikuk kota Medan, percakapan di sudut kafe itu menjadi pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari meja kecil, dengan orang-orang yang punya kepedulian besar.

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini