JAKARTA, DELITIMES.ID – Transisi energi Indonesia membutuhkan pendanaan sangat besar hingga 2034 sehingga pembiayaannya dinilai tidak dapat hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Demikian disampaikan Wakil Ketua MP RI Eddy Soeparno, dikutip dari Kompas, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, kebutuhan dana untuk menjalankan transisi energi Indonesia mencapai sekitar 180 miliar Dollar AS atau setara Rp3.213 (asumsi kurs Rp17.852) hingga 2034.
“Kita saja, Indonesia, yang akan melaksanakan transisi energi, kita saja butuh dana yang sangat besar. 180 miliar Dollar hanya untuk melaksanakan transisi energi dari sekarang sampai tahun 2034,” ujar Eddy.
Menurut Eddy, kebutuhan tersebut masih ditambah dengan rencana pengembangan 100 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Program tersebut diperkirakan membutuhkan dana sekitar 100 miliar Dollar AS.
Besarnya kebutuhan investasi membuat pemerintah perlu membuka ruang bagi pelaku usaha swasta, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan energi terbarukan.
“Ini merupakan sebuah kerja besar, tidak bisa melibatkan pemerintah saja, tidak bisa melibatkan APBN saja. Sehingga kita harus membuka pintu lebar-lebar agar pelaku usaha swasta dalam negeri maupun luar negeri ikut berpartisipasi di dalam pengembangan energi terbarukan tersebut,” kata Eddy.
Eddy menilai keterlibatan swasta diperlukan untuk mendukung pembangunan pembangkit energi terbarukan, termasuk pengembangan PLTS yang telah dicanangkan pemerintah.
Ia juga menyoroti kebutuhan pengembangan jaringan listrik. Menurutnya, pembangunan pembangkit energi terbarukan perlu diikuti dengan revitalisasi jaringan dan transmisi agar kapasitas listrik yang dihasilkan dapat ditampung oleh sistem yang tersedia.
Dalam paparannya, Eddy menyebut Indonesia menargetkan pengembangan hampir 70 gigawatt pembangkitan listrik baru hingga 2034. Dari jumlah tersebut, sekitar 52 gigawatt berasal dari energi terbarukan, termasuk ‘battery energy storage system’.
Dengan pengembangan tersebut, bauran energi terbarukan Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 17 persen saat ini menjadi hampir 30 persen pada 2034 dan 40 persen pada 2040.
Eddy mengatakan kebutuhan pendanaan transisi energi juga perlu dilihat sebagai peluang investasi. Menurutnya, keterlibatan swasta menjadi penting agar agenda transisi energi dapat berjalan sekaligus mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.
“Transisi energi itu adalah strategi pembangunan ekonomi kita ke depannya,” tegas Eddy. (REL)






















