SINGAPURA, DELITIMES.ID – Ekonomi global tengah menghadapi ancaman dari harga energi yang masih tinggi, utang pemerintah yang mencapai rekor, dan risiko dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI).
Kondisi tersebut dinilai dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Dikutip dari IDN, Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan, pemerintah berbagai negara perlu menyiapkan kebijakan fiskal dan moneter untuk menghadapi risiko tersebut.
Pernyataan itu disampaikan menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pekan depan.
Georgieva mengatakan ekonomi dunia kini menghadapi dua tekanan yang berlawanan.
Konflik di Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan energi, sementara perkembangan AI mendorong permintaan dan pada saat yang sama meningkatkan tekanan inflasi.
“Dampak gabungan dari kedua hambatan tersebut sangat berbeda di setiap negara,” kata Georgieva.
Ia menambahkan bahwa dampak dari pesatnya pertumbuhan AI juga belum dirasakan oleh banyak negara. IMF akan merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru dalam pertemuan di Bangkok.
Georgieva mengatakan penurunan proyeksi pertumbuhan terbesar akan terjadi di negara-negara yang terdampak perang. Negara tersebut termasuk Ukraina yang mengalami kerusakan besar pada infrastruktur sipil dan ekonominya.
Negara-negara Teluk juga terdampak serangan Iran dan penurunan tajam ekspor energi.
Georgieva tidak menjelaskan apakah IMF akan mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 sebesar 3% dalam laporan World Economic Outlook terbaru.
IMF sebelumnya memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,4% pada 2027.
Proyeksi tersebut diperkirakan dengan asumsi bahwa Selat Hormuz mulai kembali dibuka pada pertengahan Juli dan kondisi kembali seperti sebelum perang pada Maret 2027.
IMF juga memperkirakan harga minyak rata-rata dapat mencapai US$89 per barel pada 2026 dan US$78 per barel pada 2027. Namun, Georgieva mengatakan harga minyak saat ini masih berada di sekitar US$100 per barel.
Kapasitas pengolahan minyak yang terganggu juga membuat biaya pengolahan produk utama seperti diesel meningkat sekitar US$100 per barel.
Permintaan energi juga diperkirakan meningkat saat musim dingin. Pada saat yang sama, pasokan gas alam masih terbatas karena pengiriman gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz menghadapi hambatan.
“Bahkan jika perang di kawasan Teluk segera berakhir, masalah harga energi yang tinggi kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu,” kata Georgieva.
Harga minyak Brent juga diperkirakan tetap tinggi hingga 2027 berdasarkan kontrak berjangka minyak. Harga energi yang lebih tinggi mendorong inflasi, suku bunga kebijakan, dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Georgieva mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, Jerman, dan Jepang tenor 10 tahun kini berada di level tertinggi sejak 2007, 2009, dan 1996. Ketiganya juga diproyeksikan masih terus mengalami peningkatan. (REL)



















