JAKARTA, DELITIMES.ID – Di tengah harga minyak dunia yang makin ‘mendidih’, pemerintah memastikan sudah menghitung kemampuan APBN dalam mengantisipasi hal tersebut.
Sehingga situasi global tersebut diupayakan untuk tidak berpengaruh pada harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Di mana diketahui, pemerintah berkomitmen untuk menjaga harga Pertalite dan Solar agar tidak naik sampai akhir tahun.
APBN diprakirakan tetap mampu menyerap kenaikan harga minyak sampai ke rata-rata US$100 per barel hingga akhir tahun, tanpa harus menembus batas defisit 3% terhadap PDB.
Namun demikian, sampai dengan akhir kuartal III/2026, asumsi harga minyak atau Indonesian Crude Price (ICP) sudah mencapai US$91,9 per barel atau melebihi target APBN US$70 per barel maupun outlook akhir tahun US$83 per barel.
Saat dimintai konfirmasi, Wakil Menko Perekonomian Drajad Hari Wibowo enggan menjelaskan lebih lanjut ihwal dampak kenaikan harga minyak ke BBM nonsubsidi. Namun, dia memastikan Kementerian Keuangan sudah menghitung kemampuan APBN dalam menyerap dampak fluktuasi harga ke BBM bersubsidi.
“Iya (ada guncangan), tetapi sudah dihitung oleh Pak Menkeu, insyaAllah semuanya masih di dalam koridor untuk fiskal yang aman,” terangnya, dikutip dari Bisnis.com, Rabu (14/10/2026).
Di sisi lain, Drajad juga mengatakan bahwa pemerintah turut menyiapkan paket stimulus untuk membantu daya beli masyarakat. Salah satunya yakni Bantuan Subsidi Upah (BSU).
Mantan anggota DPR ini menuturkan bahwa otoritas fiskal juga sudah menghitung-hitung ketersediaan anggaran untuk stimulus ekonomi ini. “Banyak paket stimulus lain dan itu insyaAllah sudah dihitung, masih dalam koridor fiskal yang berhati-hati dan aman,” pungkasnya. (REL)
























