
MEDAN, DELITIMES.ID – Curah hujan tinggi yang belakangan kerap melanda Kota Medan, menyebabkan sejumlah wilayah dilanda banjir.
Seperti yang terjadi Minggu (3/9/2023), hujan mengguyur dari mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WIB, akibatnya sejumlah wilayah Kota Medan mengalami genangan air yang cukup tinggi.
Dari informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, banjir atau genangan terjadi di wilayah-wilayah Medan Sunggal, Medan Petisah, Medan Polonia, Medan Selayang, Medan Johor, serta Medan Labuhan.
Kondisi Kota Medan yang masih terus mengalami banjir – bahkan di beberapa titik makin parah – meski sejumlah program dan upaya sudah dilakukan, mendapat perhatian serius dari Komunitas Siaga Bencana (Kogana) Sumatera Utara.
Pembina Kogana Sumut, Benny Yudi Purnama kepada media, Senin (4/9/2023) menyampaikan bahwa memasuki bulan September ini kejadian dari tahun ke tahun terus berulang.
“Masyarakat Kota Medan kembali merasakan dampak cuaca, yakni banjir. Walau pemerintah sering menggunakan diksi genangan,” katanya.
Ini menunjukkan, Pemko Medan yang dipimpin Walikota Bobby Nasution belum mampu membawa warganya keluar dari persoalan rutin.
“Walaupun kita ketahui bersama, Pemko Medan dalam hal ini Dinas PUPR dan SDABMBK selalu berkonsentrasi pada pembangunan drainase, bahkan merencanakan embung atau danau retensi yang nantinya sebagai wadah penampung sementara, guna men-delay aliran air dari beberapa drainase,” katanya.
Dilihatnya saat ini, luapan air sungai yang menampung seluruh drainase Kota Medan itu pun kerap meluap, tak sanggup menampung volume air.
Menurut pengamatan ahli hidrologi yang tergabung dalam Kogana Sumut, DR Kuswandi, Kota Medan akan tetap banjir selama integrasi tidak terjalin antara Pemko dengan Pemprov dan BWSS II selaku perwakilan pemerintah pusat di bidang SDA.
Sementara Medan sendiri adalah salah satu kota yang terpilih masuk dalam program bantuan Bank Dunia yang termaktub di dalam NUFReP (National Urban Flood Resilince Project), yaitu proyek ketangguhan banjir perkotaan.
Dia pun menganggap, program Walikota Medan dengan taglinr atau slogan kolaborasi belum sepenuhnya diterapkan dalam mengatasi masalah banjir ini.
Dalam hal ini, menurutnya, kolaborasi harus lebih diterapkan bukan hanya pada dinas internal tapi juga eksternal seperti ke BWS Wilayah II termasuk para ahli dan akademisi komunitas pemerhati bencana seperti Kogana ini.
“Karena di satu sisi kami ngin berperan untuk mengatasi masalah daerah, namun di sisi lain kerap kesulitan untuk bertemu pihak berwenang guna urun pikiran. Saya sendiri sudah merasakan kondisi ini,” ungkapnya.
Kogana Sumut, kata Kuswandi, bersedia melakukan asistensi dengan pihak Pemko Medan, sebagaimana mereka dengan BPBD Sumut serta bahkan BPBD Medan.
“Karena penanganan masalah banjir ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, terlebih dilakukan oleh personal yang bukan ahli atau berkompenten di bidangnya.
Ketua Kogana Sumut, Irwan Supadli mengatakan, penanganan masalah banjir ini harus dilakukan dengan kolaborasi menggunakan metode Pentahelix atau melibatkan lima unsur dalam penanggulangan bencana.
“Yakni dengan pelibatan pihak pemerintah, masyarakat melalui orgqnisasi atau LSM, akademisi, dunia usaha serta media,” papar Irwan Supadli. (ehm)














