Forum Relawan Kebencanaan Gali Gagasan Prof Ridha Mengenai Mitigasi dan Penanganan Bencana di Kota Medan

MEDAN, DELITIMES.ID – Forum Diskusi Relawan Sumatera Utara (FDRSU) mengadakan kegiatan focus group discussion (FGD) dengan menghadirkan Calon Walikota Medan, Prof Ridha Dharmajaya, Senin (4/11/2024) di Dhahar Kopi Jalan Sei Serayu, Medan.

FGD dengan tema Fungsi LSM Kebencanaan Dalam Kebijakan Pemerintah Kota Medan dihadiri sekitar 30 relawan kebencanaan, bermaksud menguji visi misi dan menggali gagasan kandidat pemimpin Kota Medan, mengenai mitigasi dan penanganan bencana, baik yang dikarenakan faktor alam maupun sosial.

Koordinator acara, Benny Yudi Purnama mengatakan, dari tiga pasangan calon, baru Prof Ridha yang menanggapi undangan mereka untuk mengadakan kegiatan diskusi ini.

“Kami apresiasi atas kesediaan Prof Ridha untuk hadir dalam forum ini. Kita memang butuh bertemu langsung dengan para calon untuk mengetahui bila perlu menguji gagasan mereka menangani masalah kebencanaan. Kita berharap pasangan calon lain juga mau meluangkan waktunya guna mengikuti acara serupa,” kata Penasihat Komunitas Siaga Bencana (Kogana) Sumut ini.

Melalui acara ini pun, sambung Benny, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat untuk menghindarkan politik uang agar bisa menghasilkan Pilkada bersih.

“Yang kami lakukan, menyelenggarakan kegiatan ini dengan biaya dari sumbangsih rekan-rekan relawan, tanpa meminta dana dari calon yang diundang. Agar tidak ada konflik kepentingan dan tendensi keberpihakan, melainkan murni karena kita ingin menggali pemikiran mereka,” sambungnya.

Pada acara ini, Prof Ridha menanggapi, menjawab pertanyaan serta sebaliknya menampung gagasan dari peserta FDG.

Di antara yang hadir adalah komunitas ORARI, RAPI, Kogana, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Asar Humanity, Gerkatin, Ksatria, Yayasan Rumah Ceria, Tafahum, RDEE dan beberapa lainnya.

Pada acara yang dipandu moderator Suprianto dari RAPI, Prof Ridha mengawali dengan penyampaian visinya soal bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi masalah pada masyarakat miskin.

“Miskin itu biang problem.
Orang miskin, menganggur, narkoba, akhirnya mengarah ke perilaku kriminal. Itu putaran masalah di umumnya masyarakat kita, dan masuk kategori bencana sosial,” paparnya.

Hal utama yang akan dilakukan jika dia dipercaya memimpin, adalah bagaimana memastikan selalu ada nasi panas di meja makan setiap keluarga warga Kota Medan.

Berikutnya dia bicara soal pendidikan.

Ridha menginginkan setiap anak punya kemampuan untuk mendapat akses pendidikan, itu poin pertamanya.

“Poin kedua pendidikan karakter. Ini berhubungan dengan ruang-ruang ibadah, seperti rumah ibadah masjid, gereja, atau kuil,” ucapnya.

Berikutnya dia menyinggung soal pendidikan olahraga untuk mendapatkan anak-anak yang bugar dan berprestasi.

“Poin keempatnya adalah pendidikan tentang  globalisasi. Anak-anak kita harus belajar bahasa Inggris minimal sejak kelas 3 SD,” cetusnya.

Lalu, dokter ahli bedah syaraf ini juga menyinggung tentang kesehatan, yakni bagaimana peran Puskesmas dan Posyandu dioptimalkan.

Penyampaian Prof Ridha ini ada korelasinya dengan apa yang ditanyakan Marylin, aktivis kaum disabilitas netra dari HWDI Sumut.

Saat itu Marylin mempertanyakan soal perubahan seperti apa yang akan dilakukan Ridha, dan layanan seperti apa pula yang bakal diberikan agar penyajian fasilitas kesehatan kepada masyarakat utamanya kaum marjinal ke depan bisa lebih baik.

Sebab mereka telah membuat sampling di enam Puskesmas di Kota Medan, umumnya warga tidak puas dengan layanan kesehatan.

“Terutama, kami mendambakan fasilitas kesehatan yang ramah pada kaum disabilitas, dan itu masih sulit ditemui di sini,” ungkapny.

Menjawab itu, Prof Ridha mengatakan bahwa Puskesmas harus punya peran dalam penanganan emergency.

“Jika perlu, kalau masyarakat di wilayah kelurahan manapun memencet tombol emergency, ambulance bisa segera mencapai titik tersebut,” kata Ridha, seraya menyatakan konsep pelayanan kesehatan seperti itu sudah ada dalam rencana kerja dirinya dengan calon Wakil Walikota Abdul Rani, dan mereka terus menyempurnakan dengan menyerap masukan dari berbagai elemen masyarakat.

Lalu, masuklah pembahasan berikutnya soal bencana alam, termasuk di dalamnya soal banjir rob dan banjir dari aliran sungai yang masih jadi masalah krusial di Kota Medan.

Toto Hadi Purnawan dari ORARI menanyakan soal strategi untuk penanggulangan bencana, semisal di Belawan yang masih rawan banjir rob.

Lalu M Siahaan, pegiat konservasi yang menyinggung soal pemanfaatan kanal di kawasan Medan Johor yang seharusnya bisa untuk mengatasi masalah banjir akibat luapan aliran sungai dari kawasan hulu.

“Ada kanal yang sangat besar dan sangat dalam hingga 20 meter, tapi tinggi airnya cuma dua meter. Padahal dulu biaya untuk pembangunannya sangat besar, tapi tak kunjung berfungsi,” ketusnya.

Siahaan pun mengusulkan agar tiap ada bencana tidak perlu dibentuk panitia-panitia seperti selama ini, karena rawan korupsi.

‘Cukup optimalkan badan khusus untuk penanggulangan bencana, diberi anggaran yang cukup,” imbuhnya.

Menjawab berbagai pertanyaan dan masukan, Prof Ridha antara lain menegaskan bahwa yang harus dicari adalah pangkal masalah.

Misalnya kenapa di Belawan masih rawan banjir rob.

“Kalau pemerintah hanya menyiapkan perahu-perahu karet agar warga bisa melewati titik-titik banjir, akhirnya lama kelamaan kita terbiasa dan menikmati bencana itu. Padahal yang perlu adalah mencari tahu, kenapa rob makin tinggi, ohh, mungkin karena suhu makin meningkat, dan selanjutnya,” jelas Ridha.

Demikian juga soal bencana kebakaran, Ridha mau ada kajian, apakah stasiun branwir atau penadam kebakaran di Kota Medan cukup.

“Untuk konsep emergency,, kami mau punya emergency station di beberapa titik, dan konkritnya sudah kami susun program dan siap kami paparkan dalam debat kandidat nanti,” tegas Ridha. (EHM)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini