JAKARTA, DELITIMES.ID – Salah seorang politikus senior di Indonesia, Anis Matta menunjukkan konsistensinya dalam soal dukungan capres. Di mana Ketum Partai Gelora ini tetap mendukung Prabowo Subianto menuju Pilpres 2024
Konsistensi itu dimulai saat Pilpres 2014. Anis Matta yang saat itu merupakan Presiden PKS menyatakan dukungan kepada Prabowo. Ketika itu, Anis Matta, mendeklarasikan dukungannya di Kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Sabtu (17/5/2014).
PKS dan Gerindra lantas berkomitmen membetuk koalisi mengusung dan mensukseskan Capres Prabowo Subianto berpasangan dengan Hatta Radjasa di Pilpres 2014.
Dan sekarang, Anis Matta kembali mendukung Prabowo Subianto dengan resmi melalui deklarasi di Djakarta Theater Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (2/9/2023).
Kuat dan Rendah Hati
Dalam pidatonya, Anis Matta mengulas relasi Prabowo dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sembari mengingat seorang tokoh Turki yang terbunuh tawanannya sendiri.
“Cerita Pak Prabowo bersama Pak Jokowi ini mengingatkan saya pada pemimpin besar dalam sejarah Islam yang nanti menjadi kakek moyang dari Ottoman Empire, namanya Alp Arslan,” kata Anis Matta.
Cerita Alp Arslan yang diulasnya itu tragis. Di mana Alp tewas setelah ditikam oleh tawanan perang. Soalnya, Alp Arslan terprovokasi oleh tawanan perang yang bernama Yusuf Al-Khwarizmi tersebut.
“Alp Arslan adalah seorang pemimpin militer yang mencatat sejarah kemenangan militer yang luar biasa banyaknya. Tapi di akhir hidupunya Beliau meninggal di tangan tawanannya sendiri,” kata Anies Matta.
Suatu ketika, si tawanan itu menantang Alp Arslan agar berduel satu lawan satu dan tidak hanya mengepung si tawanan dengan pasukan seperti yang membuatnya ditahan.
Lalu Alp Arslan berdiri dan ditikam oleh tawanannya yang dirantai namun ternyata membawa pisau. Dia sakit selama empat hari sembari merenung kenapa dia bisa sekarat bukan karena perang.
Dia bisa kalah oleh tawanan karena pernah membatin saat perang di Samarkand, “Kira-kira siapa lagi yang bisa mengalahkan saya.” Bisikan batin itu membuat Allah mempermalukan Alp Arslan. Begitulah hasil introspeksi Alp Arslan. Setelah itu, dia memohon ampun ke Tuhan, bersyahadat, dan meninggal dunia.
“Pelajaran terbesar bagi pemimpin itu adalah pelajaran tentang kerendahan hati. Pak Prabowo adalah orang yang kuat. Tapi sekarang, saya mengenalnya dengan nilai tambahan baru dalam kepribadian Beliau, yaitu orang kuat yang rendah hati,” kata Anis Matta. (RED)
























