Seberapa Kuat Kemampuan AS Melawan China dan Rusia…?

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (foto) mengatakan, Amerika Serikat (AS) tidak cukup kuat untuk melawan China dan Rusia. Ia juga memuji latihan militer bersama antara Moskow dan Beijing.

MOSKOW, DELITIMES.ID – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (foto) mengatakan, Amerika Serikat (AS) tidak cukup kuat untuk melawan China dan Rusia. Ia juga memuji latihan militer bersama antara Moskow dan Beijing.

Menurut Lavrov, AS berusaha untuk menahan Rusia dan China dengan bantuan negara lain, tetapi mereka waspada terhadap ‘permainannya’. Sementara Barat, kata Lavrov, melihat Rusia dan China sebagai ancaman (Rusia saat ini dan China dalam jangka panjang sebagai saingan sistemik).

Ia mengatakan Washington tidak cukup kuat untuk mengawasi kedua negara sekaligus. Begitu juga dengan upaya memobilisasi Eropa, Jepang, dan lainnya untuk bergabung.

Pada saat yang sama, katanya, Barat mencoba membuat celah antara Rusia dan China.

Lavrov juga menuduh Barat mencari cara untuk membuat marah China atas sejumlah masalah. Seperti status Tibet dan Taiwan (yang hidup di bawah ancaman invasi China). China sendiri mengklaim wilayah demokrasi yang memerintah sendiri itu sebagai bagian dari daerahnya. Bahkan jika perlu merebut kembali suatu hari, dengan paksa. Di mana dalam hal ini, AS mengatakan akan membantu mempertahankan Taiwan.

Lavrov mengatakan China terlalu kuat untuk menjadi lawan AS, andai kedua negara terseret ke dalam konflik. Jadi Washington terpaksa ‘memobilisasi’ Barat untuk mendukung agenda anti-Beijing-nya.

“Mereka telah menguraikan posisi mereka di Taiwan, yang benar-benar tidak dapat diterima oleh China dan hukum internasional. Mereka (juga) mencari lebih banyak kesempatan untuk mengganggu China di Tibet, Xinjiang, dan Hong Kong,” kata Lavrov.

“Oleh karena itu, China sangat menyadari, bahwa tetap berada dalam sistem Barat dan sepenuhnya bergantung pada Barat, akan penuh dengan risiko serius bagi kepentingan nasional fundamental pembangunan China,” imbuhnya belum lama ini.

Komentar Lavrov menggarisbawahi kepentingan strategis Moskow dari hubungannya dengan China pada saat tentaranya berjuang di Ukraina. Serta hubungan ekonomi dengan Barat yang telah rusak oleh gelombang sanksi berturut-turut.

Teken Kemitraan

Kata menteri luar negeri ini, hubungan Rusia dengan Beijing tidak pernah sekuat sekarang ini. Di mana kedua negara mengalihkan jumlah perdagangan mereka yang terus meningkat ke mata uang nasional mereka. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan pada Barat dan potensi sanksi.

Rusia dan China menandatangani kemitraan ‘tanpa batas’ Februari lalu, yakni beberapa hari sebelum Moskow mengirim angkatan bersenjatanya ke Ukraina.

Hubungan ekonomi mereka berkembang pesat pada saat hubungan Rusia dengan Barat menyusut. Presiden Rusia Vladimir Putin mengandalkan Beijing untuk menyelamatkan negaranya di tengah sanksi yang kuat.

Meski begitu, ia secara terbuka mengakui bahwa mitranya dari China, Xi Jinping, ternyata juga khawatir atas tindakan Rusia di Ukraina. (RED)

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Related Posts

No Content Available

Berita Terkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (foto) mengatakan, Amerika Serikat (AS) tidak cukup kuat untuk melawan China dan Rusia. Ia juga memuji latihan militer bersama antara Moskow dan Beijing.

Seberapa Kuat Kemampuan AS Melawan China dan Rusia…?

MOSKOW, DELITIMES.ID – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (foto) mengatakan, Amerika Serikat (AS) tidak cukup kuat untuk melawan China dan Rusia. Ia juga memuji latihan militer bersama antara Moskow dan Beijing.

Menurut Lavrov, AS berusaha untuk menahan Rusia dan China dengan bantuan negara lain, tetapi mereka waspada terhadap ‘permainannya’. Sementara Barat, kata Lavrov, melihat Rusia dan China sebagai ancaman (Rusia saat ini dan China dalam jangka panjang sebagai saingan sistemik).

Ia mengatakan Washington tidak cukup kuat untuk mengawasi kedua negara sekaligus. Begitu juga dengan upaya memobilisasi Eropa, Jepang, dan lainnya untuk bergabung.

Pada saat yang sama, katanya, Barat mencoba membuat celah antara Rusia dan China.

Lavrov juga menuduh Barat mencari cara untuk membuat marah China atas sejumlah masalah. Seperti status Tibet dan Taiwan (yang hidup di bawah ancaman invasi China). China sendiri mengklaim wilayah demokrasi yang memerintah sendiri itu sebagai bagian dari daerahnya. Bahkan jika perlu merebut kembali suatu hari, dengan paksa. Di mana dalam hal ini, AS mengatakan akan membantu mempertahankan Taiwan.

Lavrov mengatakan China terlalu kuat untuk menjadi lawan AS, andai kedua negara terseret ke dalam konflik. Jadi Washington terpaksa ‘memobilisasi’ Barat untuk mendukung agenda anti-Beijing-nya.

“Mereka telah menguraikan posisi mereka di Taiwan, yang benar-benar tidak dapat diterima oleh China dan hukum internasional. Mereka (juga) mencari lebih banyak kesempatan untuk mengganggu China di Tibet, Xinjiang, dan Hong Kong,” kata Lavrov.

“Oleh karena itu, China sangat menyadari, bahwa tetap berada dalam sistem Barat dan sepenuhnya bergantung pada Barat, akan penuh dengan risiko serius bagi kepentingan nasional fundamental pembangunan China,” imbuhnya belum lama ini.

Komentar Lavrov menggarisbawahi kepentingan strategis Moskow dari hubungannya dengan China pada saat tentaranya berjuang di Ukraina. Serta hubungan ekonomi dengan Barat yang telah rusak oleh gelombang sanksi berturut-turut.

Teken Kemitraan

Kata menteri luar negeri ini, hubungan Rusia dengan Beijing tidak pernah sekuat sekarang ini. Di mana kedua negara mengalihkan jumlah perdagangan mereka yang terus meningkat ke mata uang nasional mereka. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan pada Barat dan potensi sanksi.

Rusia dan China menandatangani kemitraan ‘tanpa batas’ Februari lalu, yakni beberapa hari sebelum Moskow mengirim angkatan bersenjatanya ke Ukraina.

Hubungan ekonomi mereka berkembang pesat pada saat hubungan Rusia dengan Barat menyusut. Presiden Rusia Vladimir Putin mengandalkan Beijing untuk menyelamatkan negaranya di tengah sanksi yang kuat.

Meski begitu, ia secara terbuka mengakui bahwa mitranya dari China, Xi Jinping, ternyata juga khawatir atas tindakan Rusia di Ukraina. (RED)

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Related Posts

No Content Available

Berita Terkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *