Ilustrasi (foto/ist)

Rupiah Berpotensi Sentuh Angka Rp18.500 per Dolar AS

JAKARTA, DELITIMES.ID – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan menyentuk angka Rp18.500.

Kondisi ini salah satunya dipengaruhi sentimen suku bunga Bank Sentral AS Federal Reserve atau The Fed. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga memang menjadi sentimen jangka pendek.

Tetapi terdapat beberapa faktor lain yang dapat membuat Rupiah semakin tertekan.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, gabungan faktor The Fed yang lebih hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tinggi dan risiko geopolitik yang meningkat, akan membuat Rupiah semakin terpuruk.

“Rupiah berpotensi kembali menghadapi tekanan dan bergerak ke kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500,” kata dia, dikuip dari Kompas.com, Senin (19/10/2026).

Untuk jangka menengah, ia berujar, ruang stabilisasi dan penguatan Rupiah tetap ada, tetapi sangat bergantung pada kombinasi faktor global dan domestik. Kunci utamanya adalah apakah tekanan dari Dolar AS dan yield AS mulai mereda.

“Serta seberapa kuat respons kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar,” imbuh dia.

Dalam jangka menengah ke depan, ia berujar pergerakan mata uang Garuda tidak hanya bergantung pada sentimen The Fed. Kurs Rupiah rawan terpengaruh oleh kombinasi paket risiko global dan indikator domestik.

Nanang bilang, faktor eksternal pertama yang memengaruhi adalah paket risiko global dan harga energi. Gejolak geopolitik di Timur Tengah khususnya wilayah Laut Merah dan Selat Hormuz telah mengerek harga minyak mentah Brent bertahan di atas 108 Dolar AS per barrel.

Indonesia sebagai negara importir minyak (net oil importer) sangat rentan terhadap lonjakan ini karena memperlebar defisit neraca perdagangan migas.

Lalu, faktor lain muncul dari arah kebijakan suku bunga global lainnya. Selain The Fed, arah pengetatan moneter dari bank sentral besar lain seperti Bank of Japan (BoJ) yang belakangan ini menguatkan nilai Yen juga akan memengaruhi peta likuiditas mata uang regional Asia.

Seiring dengan itu, dari dalam negeri terdapat juga faktor yang memengaruhi pergerakan Rupiah ke depan. Salah satunya adalah resiliensi cadangan devisa.

Nanang mengungkapkan, sisi positif penopang Rupiah adalah posisi cadangan devisa Indonesia yang kuat sebesar 146,5 miliar Dolar AS per Agustus 2026. “Jumlah ini sangat krusial bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi di pasar valas guna menstabilkan nilai tukar,” terang dia.

Kemudian, faktor selanjutnya adalah kredibilitas fiskal dan APBN. Pasar saat ini mencermati ketahanan ruang fiskal pemerintah dalam menahan beban subsidi energi, mengingat asumsi harga minyak di APBN berada di kisaran 70 Dolar AS per barrel.

Selain itu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang tercatat mencapai 453,4 miliar Dolar AS per Juli 2026 ikut menjadi perhatian pelaku pasar.

Sedangkan faktor domestik terakhir berasal dari kesenjangan suku bunga antara BI Rate dan Fed Fund Rate. Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mendatang akan krusial.

“Jika BI mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk menjaga interest rate differential (selisih bunga), Rupiah akan mendapatkan bantalan penahan jatuh yang lebih kuat,” tutup dia.

Sebagai informasi, Bank Sentral AS The Fed juga memberikan sinyal satu kenaikan suku bunga acuan kembali di sisa 2026 ini. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memerangi inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak dan faktor lainnya. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini