MEDAN, delitimes.id – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, meninjau Kolam Detensi Selayang di Jalan Abdul Hakim, Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Selasa (18/11/2025). Peninjauan ini terkait rencana pengembangan kolam detensi yang didanai oleh World Bank sebagai salah satu upaya pengendalian banjir di Kota Medan.
Dalam kunjungan tersebut, Wali Kota didampingi Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, perwakilan World Bank, serta sejumlah pejabat Pemko Medan. Mereka meninjau papan rencana pengembangan kolam dan berdiskusi mengenai target proyek.
Rico Waas menjelaskan, proyek pengembangan kolam detensi ini akan dimulai pada tahun 2026 dan ditargetkan mampu mereduksi banjir di wilayah Selayang, termasuk Jalan Dr. Mansyur, sekitar 10–15 persen.
“Nantinya, kolam detensi ini dapat membantu mengurangi banjir di wilayah Kecamatan Selayang. Dengan begitu, dampak banjir bagi masyarakat terutama di pusat kota bisa diminimalisir,” kata Wali Kota.
Rico menambahkan, Kota Medan sebagai kota metropolitan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, mulai dari urbanisasi hingga jumlah penduduk yang besar, sehingga penanganan banjir menjadi prioritas. Proyek ini diharapkan menjadi bagian dari langkah bertahap untuk mengatasi banjir secara menyeluruh.
Selain kolam detensi, Pemko Medan juga merencanakan proyek penanganan banjir lain, seperti Medan Flood Control di Lau Simeme, pelebaran Sungai Badera, dan pelebaran Sungai Selayang.
“Semua tahapan ini dirancang untuk mereduksi banjir di Medan. Kami berharap secara bertahap banjir dapat ditangani dengan baik,” ujarnya, didampingi Asisten Ekbang Citra Effendi Capah, Plt Kadis SDABMBK Gibson Panjaitan, Kadis Lingkungan Hidup Melvi Marlabayana, Kabag Umum Ridho Nasution, dan Camat Medan Selayang Hafiz Rambe.
Sementara itu, Kasatker BWS Dony Hermawan menjelaskan, pengerjaan Kolam Detensi Selayang akan meliputi penggalian sedalam lima meter, penataan kawasan sekitar, landscaping, dan perluasan kapasitas kolam. Proyek ini menggunakan anggaran tambahan Rp15 miliar, dimulai Januari 2026, dan ditargetkan selesai Desember 2026. Kolam ini akan menampung sekitar 100.000 m³ air, sekaligus berfungsi sebagai cadangan air baku saat kemarau.
“Kolam detensi ini diharapkan mampu memotong puncak banjir 10–15 persen. Namun untuk hasil yang optimal, perlu dilanjutkan dengan normalisasi Sungai Selayang sepanjang 4 kilometer, dengan kedalaman bawah 6 meter dan permukaan sekitar 12 meter,” jelas Dony.
Rico menegaskan, seluruh konsep pengendalian banjir ini telah melalui kajian matang dan pengawasan oleh BWS, termasuk solusi untuk titik-titik yang belum bisa terserap seperti wilayah jauh dari sungai dan drainase yang belum sempurna.
“Kami akan terus mencari cara dan solusi agar setiap wilayah terdampak banjir dapat diatasi secara efektif,” tutup Wali Kota. (ds)
























