AI Berpotensi Jadi Ancaman untuk Lapangan Kerja ‘Fresh Graduate’

JAKARTA, DELITIMES.ID – IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia memperingatkan kecerdasan buatan atau ‘artificial intelligence’ (AI) berpotensi mengganggu pasar tenaga kerja global, terutama bagi kalangan fresh graduate muda.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menggambarkan perkembangan AI sebagai ‘tsunami bergerak perlahan’ (slow-moving tsunami) yang mulai menghantam pasar tenaga kerja.

Lulusan baru perguruan tinggi menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak perubahan tersebut. “Kelompok yang paling perlu kita khawatirkan adalah kaum muda yang baru memasuki pasar tenaga kerja,” ujar Georgieva, dikutip dari Bisnis.com, Rabu (14/10/2026).

Dia menjelaskan, pekerja muda biasanya memulai karier melalui pekerjaan rutin dan berulang sebelum naik ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, otomatisasi berbasis AI berpotensi menghilangkan sebagian pekerjaan tersebut dan mempersempit jalur awal bagi lulusan baru untuk membangun karier.

“Biasanya, mereka akan memasuki pekerjaan rutin dan berulang, kemudian naik ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, jika pekerjaan itu hilang, saya rasa tidak ada anak muda yang ingin menjadikan barista di kedai kopi sebagai masa depan profesional mereka,” katanya.

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang turut menjadi Ketua World Bank Jobs Council mengatakan, pemerintah perlu menjadikan dukungan untuk penyerapan tenaga kerja muda sebagai kebijakan struktural, bukan sekadar langkah darurat.

Menurutnya, berbagai kebijakan yang diterapkan selama pandemi Covid-19 dan di sejumlah negara saat krisis keuangan global perlu dipertimbangkan kembali sebagai bagian permanen dari kebijakan ketenagakerjaan.

“Hal-hal yang kita lakukan saat itu kini harus dipandang bukan sebagai langkah penanganan krisis, melainkan sebagai bagian dari perangkat kebijakan struktural,” ujar Tharman.

Dia menilai pemerintah perlu bekerja sama dengan sektor swasta dan memberikan insentif kepada perusahaan agar bersedia merekrut lulusan baru. Pasalnya, permintaan terhadap tenaga kerja yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi mulai melemah.

“Jenjang pertama dalam dunia kerja, yakni pekerjaan pertama setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan,” katanya. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini