Indonesia bukanlah sekadar negara kepulauan dengan ribuan pulau dan keanekaragaman budaya yang memesona.

Bisakah Menjadikan Indonesia Emas dengan Cara Cepat?

INDONESIA bukanlah sekadar negara kepulauan dengan ribuan pulau dan keanekaragaman budaya yang memesona. Ia adalah mozaik besar yang tersusun dari sejarah kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, mulai dari Sriwijaya, Majapahit, Gowa, Ternate, hingga kerajaan-kerajaan lokal yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Di masa lalu, hubungan antar-kerajaan ini lebih banyak ditentukan oleh kekuatan militer dan kepentingan wilayah. Perang demi perang menjadi wajah umum dari sejarah Nusantara.

Namun perubahan besar terjadi ketika muncul pemikiran persatuan. Adalah Ir Soekarno yang pada tahun 1927 mulai menggagas suatu entitas baru bernama Indonesia. Gagasan ini bukan sekadar penyatuan wilayah geografis, melainkan penyatuan nilai, sejarah, dan semangat dari berbagai kerajaan dan kebudayaan di bawah satu cita-cita: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cita-cita ini mencapai tonggaknya dalam momentum Sumpah Pemuda tahun 1928—sebuah titik balik peradaban di mana identitas sebagai ‘bangs’ lahir, menggantikan identitas sempit kedaerahan.

Perubahan karakter dari kerajaan-kerajaan yang dulunya saling berperang menjadi satu bangsa dalam bingkai ‘Bhinneka Tunggal Ika’ adalah lompatan peradaban yang luar biasa. Namun sayangnya, semangat ini tidak serta-merta menyelesaikan tantangan keindonesiaan. Justeru hingga hari ini, kita menyaksikan bagaimana kompleksitas budaya, agama, dan sistem sosial menjadi hambatan tersendiri dalam membangun bangsa yang maju dan adil.

Indonesia: ‘Anak Gadis’ yang Diincar Banyak Bangsa

Kekayaan alam Indonesia yang luar biasa seringkali membuat negara ini diibaratkan sebagai ‘anak gadis molek’ yang menarik perhatian banyak bangsa. Setelah kejatuhan Kekhilafahan Utsmaniyah (1924-1925), kekuatan imperial dunia mulai menjadikan wilayah-wilayah Islam—termasuk Nusantara—sebagai sasaran kolonisasi. Mereka menggunakan cara-cara brutal: merampas, mengatur, bahkan mencuci otak rakyat jajahan. Tapi mereka lupa satu hal: Rakyat Indonesia adalah keturunan para pejuang.

Lihat saja warisan budaya Nusantara. Banyak tarian tradisional diiringi dengan tombak, tameng, dan pedang. Budaya kita tidak hanya estetis, tapi juga mencerminkan semangat perlawanan dan kesiapsiagaan. Belum lagi kedatangan para perantau dari India, Tiongkok, Myanmar, dan Timur Tengah yang membawa semangat perjuangan masing-masing dan akhirnya melebur dalam jiwa Nusantara.

Menuju Indonesia Emas 2045: Mimpi atau Utopia?

Indonesia hari ini berikhtiar menuju ‘Indonesia Emas 2045’, sebuah visi besar 100 tahun kemerdekaan. Namun, pertanyaan mendasarnya: Apakah kita membangun bangsa ini dengan landasan yang benar?

Lagu kebangsaan kita salah satu liriknya menyuarakan dengan tegas, ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya’. Tetapi realitasnya, pembangunan lebih banyak diarahkan pada fisik, bukan pada pembentukan jiwa bangsa. Pemerintah lebih gemar membangun gedung dan jalan tol, sementara pendidikan karakter, moral politik, dan keadilan sosial masih terabaikan.

  • Persoalan-persoalan bangsa semakin pelik:
  • Penegak hukum yang malah menjadi pelanggar hukum.
  • Sistem peradilan yang tajam ke bawah, tumpul ke atas.
  • Korupsi yang mengakar di lembaga-lembaga strategis.
  • Ketimpangan ekonomi, buruh yang tertindas, dan kebijakan yang kontradiktif.
  • Masuknya paham-paham asing melalui dunia digital tanpa filter budaya.

Jika dahulu Nusantara makmur karena pertanian dan perkebunan, hari ini kita menyaksikan ironi. Perkebunan milik negara (BUMN) terus merugi, sementara perkebunan swasta (asing) justeru berkembang pesat, padahal mereka harus membeli lahan dan membayar pajak.

Pertanyaan kritisnya: Apakah kita benar-benar mampu mengelola negara ini?

Bahkan muncul pemikiran ekstrem: Bagaimana jika Indonesia dikontrak kelola oleh bangsa asing?

Gagasan ini bukan tanpa dasar. Kota Medan di masa Kolonial Belanda misalnya, dibangun dengan perencanaan drainase yang matang, hasil kerja sama dengan Jerman selama 10 tahun. Perkebunan pun dirancang berdasarkan topografi dan keberlanjutan lingkungan, tidak asal tanam seperti banyak terjadi hari ini, terutama dengan tanaman sawit yang merusak cadangan air tanah dengan selalu melapisi tanah sekitarnya dengan lemak yang dihasilkannya, menyebabkan resistensi penyerapan air isekitar tanaman tersebut, yang menyebabkan kekeringan dan mudahnya air hujan jatuh ke kontur yang lebih rendah, yang menyebabkan banjir bandang di beberapa titik alur pada catchment area.

Sementara ada tanaman menyerupainya yaitu seperti Aren jauh lebih ramah lingkungan dan ekonomis, dan dapat langsung dinikmati rakyat (air nira, tuak, kolang kaling) dan menumbuhkan dasar perekonomian (Gula Merah, Gula Semut, sapu ijuk, sapu lidi, alat tradisionil lainnya) kepada masyarakat, tapi tak dilirik serius oleh negara.

Menjawab tantangan: Kembali ke Akar Jiwa Bangsa

Untuk menjawab tantangan menuju Indonesia Emas 2045, kita harus kembali ke semangat awal para pendiri bangsa: membangun jiwa bangsa. Tanpa jiwa yang kuat, semua pembangunan fisik hanya akan jadi warisan mati. Kita perlu pemimpin yang tidak hanya piawai membangun jalan, tapi juga membangun integritas dan rasa keadilan sosial.

Indonesia bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah peradaban besar yang sedang mencari kembali jati dirinya. Kita bukan hanya mewarisi tanah, tapi juga tanggung jawab sejarah. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah Indonesia bisa maju, tapi apakah kita sanggup menjadi bangsa yang dewasa dalam menyikapi kebhinekaan dan menggenggam kemandirian?

Jika jawabannya ya, maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi. Tapi jika tidak, maka kita akan menyaksikan bagaimana ‘anak gadis molek’ ini diperebutkan kembali oleh bangsa-bangsa lain, bukan lewat perang, tapi lewat ekonomi, teknologi, dan infiltrasi budaya. (Penulis: Benny Yudi Purnama JZ02ATZ – Pembina KOGANA)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini