‘Terkait rendahnya kesadaran masyarakat perkotaan, atas rencana pemerintahan perkotaan yang kurang sejalan‘
Oleh: Benny Yudi Purnama
Di tengah geliat pembangunan yang kian masif, kita dihadapkan pada sebuah realita sosial yang ironis: semakin banyak fasilitas dibangun, semakin berkurang rasa kepemilikan masyarakat terhadap lingkungan mereka sendiri.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada ‘celah besar’ dalam pola pendidikan sosial kita — mis-edukasi yang membuat masyarakat merasa bahwa menjaga kebersihan lingkungan, merawat fasilitas umum, hingga mempertahankan ketertiban, adalah murni tugas pemerintah. Seakan-akan, kewajiban menjaga bumi tempat mereka berpijak, telah dialihkan sepenuhnya kepada negara dan aparat.
Saya teringat sebuah kisah yang diangkat oleh seorang YouTuber kritis, ‘Guru Gembul’ tentang sebuah cerita nyata di desa kecil, di mana anak-anak sekolah terbiasa merawat jalan setapak yang mereka lalui. Mereka membabat rumput liar, menimbun lubang dengan batu yang dibawa dalam tas sekolah, merawat jalur mereka dengan semangat mandiri.
Namun, ketika pembangunan atau usulan dari anggota DPRD, yang mana anggota tersebut berasal dari desa anak tersebut maka jalan-jalan itu dibeton, dipermanis, hal ini justeru rasa tanggung jawab pada anak tersebut itu perlahan sirna.
Di saat jalan itu rusak karena waktu atau mungkin karena spesifikasinya tak sesuai dengan kenyataanya, anak-anak yang dulu selalu memperbaiki dengan tangan sendiri, kini hanya tahu satu hal yaitu menuntut kepada anggota DPRD di desanya, bahkan didemo agar anggota DPRD tersebut meminta pemerintah untuk segera memperbaikinya.
Inilah kejanggalan dalam pola pikir sosial kita hari ini: Pembangunan fisik boleh jadi andalan, namun pembangunan karakter tertinggal.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sama halnya pemerintah dengan niat baik telah menyediakan banyak fasilitas: program pengangkutan sampah, jalanan beton, taman-taman kota. Tapi dalam proses itu, terkesan masyarakat dimanjakan. Mereka hanya menikmati hasil, tanpa dilibatkan dalam menjaga proses. Akibatnya, rasa memiliki/sense of belonging itu hilang. Tanggung jawab sosial tergerus. Gotong-royong yang dahulu menjadi jantung kehidupan bermasyarakat kini hanya menjadi kenangan, dan itu dirasakan saat ini.
Sungguh, pembangunan fisik tanpa pembangunan sumber daya manusia adalah setengah jalan yang menyesatkan.
Maka saya, sebagai Pembina Komunitas Siaga Bencana dalam ruang ini, mengajak seluruh pihak sadar untuk melakukan koreksi besar:
Libatkan masyarakat dalam program pembanguan lingkungan. Atau memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat programnya sendiri dengan pembiayaan dari pemerintah, atau memfasilitasi kegiatan berupa: bank sampah, ronda, gotong royong kebersihan, kerja bakti rutin. Pemerintah cukup menjadi fasilitator, atau menyediakan alat dan mengangkut hasilnya.
- Bangun pendidikan sosial sejak dini.
- Ajarkan anak-anak bahwa merawat lingkungan bukan kewajiban orang lain, tetapi bagian dari harga diri mereka sebagai warga.
- Dekatkan pejabat dengan rakyat dalam pola edukatif.
- Pejabat harus hadir bukan hanya saat peresmian proyek, tetapi saat mengajak masyarakat berpikir kritis, berdialog, dan membangun kesadaran.
- Berantas korupsi dengan keteladanan.
- Jangan biarkan korupsi pembangunan fisik menjadi alasan apatisme rakyat. Pemerintah dan wakil rakyat harus menjadi contoh ketulusan dan pengabdian.
Kita tidak sedang hanya membangun jembatan, jalan raya, atau taman kota. Kita sedang atau seharusnya juga membangun manusia-manusia baru: yaitu manusia yang bertanggung jawab, peduli, dan sadar akan lingkungannya dan menegaskan bahwa lingkungannya bukan milik pemerintah, melainkan milik warga itu sendiri hingga bagi generasi mereka berikutnya.
Mari kita koreksi arah pembangunan kita: Dari membangun sebuah konstruksi/konteks — menjadi membangun peradaban/kontektualitas. Banyak fasilitas telah dibangun.
Tapi, sayangnya, rasa kepedulian kita terhadap lingkungan malah memudar. Masyarakat kini terbiasa berpikir, menjaga kebersihan adalah urusan pemerintah. Padahal, lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama!
Kita tidak boleh hanya menikmati hasil pembangunan. Kita harus terlibat aktif:
- Membuat program lingkungan sendiri
- Menjaga kebersihan mulai dari rumah
- Membangun gotong royong antar tetangga
- Menghidupkan kembali semangat kontrol sosial positif
- Pemerintah cukup memfasilitasi — masyarakatlah yang harus menjadi penggerak utama!
Dengan hal itu kami mengingatkan bahwa hendaknya pembangunan sebuah negara itu bukan hanya berupa membangun pencakar langit tapi harus juga membangun kesadaran/moral dan mentalitas jauh lebih penting
Memang suatu dilema yang dihadapi para kepala daerah, trend saat ini melakukan suatu pencitraan lebih jelas adalah membangun berupa fisik/konstruksi, daripada membangun mentalitas terkesan tidak nyata, hal ini sebuah tantangan pada setiap kepala daerah dalam melakukan programnya, karena hal itu harus sejalan.
Mari jaga Bumi ini, mulai dari langkah kecil di lingkungan kita sendiri
Salam siaga dan hormat. (Penulis adalah Pembina Komunitas Siaga Bencana – JZ02ATZ)




















