Oleh: Benny Yudi Purnama
DALAM badai krisis ekonomi yang berkepanjangan, ketika angka pengangguran meningkat dan kebutuhan hidup kian mahal, ada satu hal yang masih berdiri kokoh di tengah masyarakat kita, yakni: ketangguhan sosial.
Ketangguhan ini bukan datang dari bantuan besar atau sistem ekonomi makro yang mapan, melainkan dari kekuatan sehari-hari yang ditopang oleh nilai gotong royong, solidaritas, dan semangat untuk saling menguatkan. Di gang-gang sempit kota, di sudut-sudut desa yang jauh dari sorotan, masyarakat tetap bergerak: membuka warung kecil, menjahit ulang pakaian lama, membentuk koperasi ibu-ibu, hingga saling memberi makan di tengah keterbatasan.
Krisis telah memaksa banyak keluarga beradaptasi. Yang kehilangan pekerjaan, mencoba bertahan dengan dagangan daring. Yang terdampak PHK, tak segan belajar keahlian baru lewat media sosial. Yang biasanya bergantung pada gaji bulanan, kini menyulap dapur menjadi dapur usaha. Semua ini adalah ekspresi nyata dari ketangguhan sosial.
Namun, ketahanan seperti ini tidak bisa terus dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah dan lembaga sosial perlu membaca ulang sinyal ini: bahwa masyarakat bisa bertahan, jika didukung dengan kebijakan yang pro-rakyat, akses yang terbuka, dan pendidikan keterampilan yang terjangkau.
Komunitas seperti KOGANA percaya, bahwa membangun ketangguhan masyarakat bukan hanya soal pelatihan tanggap bencana atau kesiapsiagaan terhadap ancaman alam, tapi juga tentang menyiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana yang lebih halus namun sangat nyata pada keadaan krisis ekonomi.
Kita perlu lebih banyak ruang untuk saling belajar dan berbagi. Dan tulisan ini adalah salah satu langkah kecil untuk itu kita menyuarakan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini bukan hanya pada angka-angka pertumbuhan, tetapi pada rakyatnya yang terus memilih bertahan dan bangkit, bersama.
Salam Tangguh, siaga selalu..! (Penulis adalah Pembina Komunitas Siaga Bencana Sumut – JZ02ATZ)




















