Mengenali dan Mengatasi Depresi pada Anak

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

DELITIMES – Selama ini kita mungkin berpikir bahwa hanya orang dewasa dan remaja saja yang dapat mengalami depresi. Namun, kenyataannya anak kecil juga bisa mengalaminya.

Meski demikian, depresi pada anak kecil terlihat sangat berbeda, sehingga sulit bagi orangtua atau dokter untuk mengenali gejalanya, dan memberikan bantuan.

Psikolog klinis di Child Mind Institute, New York City, Amerika Serikat, Rachel Busman memberikan penjelasannya mengenai hal lini.

Dia menyebut, sulit untuk memikirkan tentang depresi pada anak-anak yang lebih kecil, karena kita membayangkan masa kanak-kanak sebagai masa kepolosan dan kegembiraan.

“Padahal, ada sebanyak 2-3 persen anak usia 6-12 tahun yang mengalami depresi berat,” kata dia.

“Dan gangguan kecemasan yang terjadi pada lebih dari tujuh persen anak-anak berusia 3-17 tahun berisiko meningkatkan depresi,” sambung dia.

Ketua Psikiatri Anak dan Remaja di N.Y.U. Langone Health, Dr Helen Egger juga memberikan penjelasan senada.

Dia mengatakan, berdasarkan penelitian epidemiologi, antara 1-2 persen anak kecil — kurang lebih berusia tiga tahun — mengalami depresi.

Maria Kovacs, Profesor Psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh, mengatakan, pada tahun 1950-an dan 1960-an, ada psikiater anak yang percaya kalau anak-anak tidak memiliki perkembangan ego untuk merasakan depresi.

Tetapi di sisi lain, penelitian yang dilakukan di tahun 70-an menunjukkan, anak usia sekolah dapat menderita depresi yang dapat didiagnosis.

Sebelum masa remaja, depresi umumnya terjadi pada anak perempuan dan laki-laki, meskipun di antara remaja dua kali lebih sering terjadi pada anak perempuan.

Dominasi itu kemudian bertahan di sebagian besar kehidupan orang dewasa. Sampai usia tua, baik perempuan dan laki-laki memiliki tingkat depresi yang sama.

Mengenali depresi pada anak kecil

Ketika anak-anak kecil mengalami depresi, bukan hal yang aneh jika mereka mudah tersinggung dan muncul sebagai anak yang sangat rewel.

Kovacs menjelaskan, cara terbaik bagi orangtua untuk mengenali depresi pada anak kecil bukanlah dengan apa yang dikatakan anak, melainkan dengan apa yang dilakukannya.

“Carilah perubahan signifikan jika seorang anak mulai berhenti bermain dengan hal-hal favoritnya, atau berhenti menanggapi apa yang biasa dia tanggapi,” ujar dia.

Ini mungkin berarti seorang anak kehilangan minat pada permainan, lelucon atau ritual yang dulunya menyenangkan dan menghibur.

Tanda-tanda lain anak mengalami depresi di antaranya mengeluh tentang gejala fisik, terutama sakit perut dan sakit kepala.

Anak juga bisa menjadi tidur lebih banyak atau lebih sedikit, serta kehilangan nafsu makan.

Petugas medis dan ilmiah di Little Otter, Dr Egger mengatakan, anak usia prasekolah yang mungkin mengalami depresi akan mengamuk setiap hari.

Perilaku tersebut, bahkan berisiko melukai diri sendiri atau orang lain.

“Depresi mungkin terlihat seperti masalah perilaku, tetapi sebenarnya itu didorong oleh apa yang anak-anak rasakan di dalam,” ungkap dia.

Perawatan untuk anak depresi

Seorang profesor psikologi dan psikiatri di Florida International University, Jonathan Comer mengatakan, orangtua harus menanggapi gejala depresi anak dengan sangat serius.

“Dalam bentuk yang serius, hal itu menjadi bola salju seiring waktu dan permulaan lebih awal dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk di sepanjang masa hidupnya,” tutur dia.

Dalam studi longitudinal 2016, Kovacs dan rekan-rekannya menelusuri perjalanan depresi yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan menemukan episode berulang di kemudian hari.

Jadi, jika kita melihat perubahan anak-anak yang mulai menarik diri dari aktivitasnya, mudah tersinggung atau sedih, kelelahan, dan gangguan tidur yang berlangsung selama dua minggu, pertimbangkan untuk mengevaluasi anak ke tenaga profesional.

Orangtua juga harus melakukan evaluasi kesehatan mental yang komprehensif, termasuk mengumpulkan sejarah dari orangtua.

Dilihat bagaimana orangtua menghabiskan waktu bersama anak, dan juga perlu berbicara dengan pihak sekolah.

Evaluasi harus mencakup pertanyaan tentang gejala depresi serta mencari masalah lain seperti gangguan attention deficit hyperactivity atau kecemasan, yang mungkin menjadi akar dari kesusahan anak.

“Ada bukti hebat perawatan yang berfokus pada depresi anak, interaksi keluarga, dan dampaknya terhadap suasana hati,” kata Comer.

Perawatan atau terapi interaksi orangtua-anak yang dikenal sebagai PCIT sering digunakan untuk melatih orangtua menekankan hal-hal positif tentang perilaku anak-anak mereka.

Sebisa mungkin, orangtua harus berusaha menjaga anak pergi keluar, berjalan-jalan, bahkan bermain permainan di luar ruangan, meskipun mereka kurang antusias dengan kegiatan yang biasa dilakukan.

Selain itu, latihan fisik atau berolahraga ternyata memiliki manfaat bagi mental dan biologis pada anak.

Depresi tak selalu memberikan penjelasan sebab-akibat yang sederhana, tetapi Kovacs menekankan, dengan episode pertama pada seorang anak, hampir selalu ada faktor stres tertentu yang dapat memicu masalah.

Bisa jadi perubahan dalam konstelasi keluarga seperti perceraian orangtua, kematian atau bisa juga sesuatu yang lebih halus yakni kecemasan.

Jika seorang anak benar-benar memulai terapi, bagian dari perawatannya adalah mengidentifikasi dan membicarakan penyebab dari rasa stres itu.

Menemukan bantuan untuk anak yang depresi

Apabila kita khawatir anak-anak mungkin mengalami depresi, mulailah berkonsultasi dengan dokter anak atau penyedia perawatan primer lainnya.

Klinik dan pusat kesehatan tentu memiliki layanan kesehatan mental internal, dan kita mungkin dapat membawa anak-anak ke sana.

“Orangtua perlu melihat perjuangan anak-anak sebagai kesempatan untuk campur tangan.”

“Mayoritas masalah suasana hati anak usia dini akan hilang seiring waktu dengan pengasuhan yang sensitif, serta lingkungan yang mendukung,” ujar dia.

Sumber: Kompas.com

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Related Posts

Berita Terkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengenali dan Mengatasi Depresi pada Anak

DELITIMES – Selama ini kita mungkin berpikir bahwa hanya orang dewasa dan remaja saja yang dapat mengalami depresi. Namun, kenyataannya anak kecil juga bisa mengalaminya.

Meski demikian, depresi pada anak kecil terlihat sangat berbeda, sehingga sulit bagi orangtua atau dokter untuk mengenali gejalanya, dan memberikan bantuan.

Psikolog klinis di Child Mind Institute, New York City, Amerika Serikat, Rachel Busman memberikan penjelasannya mengenai hal lini.

Dia menyebut, sulit untuk memikirkan tentang depresi pada anak-anak yang lebih kecil, karena kita membayangkan masa kanak-kanak sebagai masa kepolosan dan kegembiraan.

“Padahal, ada sebanyak 2-3 persen anak usia 6-12 tahun yang mengalami depresi berat,” kata dia.

“Dan gangguan kecemasan yang terjadi pada lebih dari tujuh persen anak-anak berusia 3-17 tahun berisiko meningkatkan depresi,” sambung dia.

Ketua Psikiatri Anak dan Remaja di N.Y.U. Langone Health, Dr Helen Egger juga memberikan penjelasan senada.

Dia mengatakan, berdasarkan penelitian epidemiologi, antara 1-2 persen anak kecil — kurang lebih berusia tiga tahun — mengalami depresi.

Maria Kovacs, Profesor Psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh, mengatakan, pada tahun 1950-an dan 1960-an, ada psikiater anak yang percaya kalau anak-anak tidak memiliki perkembangan ego untuk merasakan depresi.

Tetapi di sisi lain, penelitian yang dilakukan di tahun 70-an menunjukkan, anak usia sekolah dapat menderita depresi yang dapat didiagnosis.

Sebelum masa remaja, depresi umumnya terjadi pada anak perempuan dan laki-laki, meskipun di antara remaja dua kali lebih sering terjadi pada anak perempuan.

Dominasi itu kemudian bertahan di sebagian besar kehidupan orang dewasa. Sampai usia tua, baik perempuan dan laki-laki memiliki tingkat depresi yang sama.

Mengenali depresi pada anak kecil

Ketika anak-anak kecil mengalami depresi, bukan hal yang aneh jika mereka mudah tersinggung dan muncul sebagai anak yang sangat rewel.

Kovacs menjelaskan, cara terbaik bagi orangtua untuk mengenali depresi pada anak kecil bukanlah dengan apa yang dikatakan anak, melainkan dengan apa yang dilakukannya.

“Carilah perubahan signifikan jika seorang anak mulai berhenti bermain dengan hal-hal favoritnya, atau berhenti menanggapi apa yang biasa dia tanggapi,” ujar dia.

Ini mungkin berarti seorang anak kehilangan minat pada permainan, lelucon atau ritual yang dulunya menyenangkan dan menghibur.

Tanda-tanda lain anak mengalami depresi di antaranya mengeluh tentang gejala fisik, terutama sakit perut dan sakit kepala.

Anak juga bisa menjadi tidur lebih banyak atau lebih sedikit, serta kehilangan nafsu makan.

Petugas medis dan ilmiah di Little Otter, Dr Egger mengatakan, anak usia prasekolah yang mungkin mengalami depresi akan mengamuk setiap hari.

Perilaku tersebut, bahkan berisiko melukai diri sendiri atau orang lain.

“Depresi mungkin terlihat seperti masalah perilaku, tetapi sebenarnya itu didorong oleh apa yang anak-anak rasakan di dalam,” ungkap dia.

Perawatan untuk anak depresi

Seorang profesor psikologi dan psikiatri di Florida International University, Jonathan Comer mengatakan, orangtua harus menanggapi gejala depresi anak dengan sangat serius.

“Dalam bentuk yang serius, hal itu menjadi bola salju seiring waktu dan permulaan lebih awal dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk di sepanjang masa hidupnya,” tutur dia.

Dalam studi longitudinal 2016, Kovacs dan rekan-rekannya menelusuri perjalanan depresi yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan menemukan episode berulang di kemudian hari.

Jadi, jika kita melihat perubahan anak-anak yang mulai menarik diri dari aktivitasnya, mudah tersinggung atau sedih, kelelahan, dan gangguan tidur yang berlangsung selama dua minggu, pertimbangkan untuk mengevaluasi anak ke tenaga profesional.

Orangtua juga harus melakukan evaluasi kesehatan mental yang komprehensif, termasuk mengumpulkan sejarah dari orangtua.

Dilihat bagaimana orangtua menghabiskan waktu bersama anak, dan juga perlu berbicara dengan pihak sekolah.

Evaluasi harus mencakup pertanyaan tentang gejala depresi serta mencari masalah lain seperti gangguan attention deficit hyperactivity atau kecemasan, yang mungkin menjadi akar dari kesusahan anak.

“Ada bukti hebat perawatan yang berfokus pada depresi anak, interaksi keluarga, dan dampaknya terhadap suasana hati,” kata Comer.

Perawatan atau terapi interaksi orangtua-anak yang dikenal sebagai PCIT sering digunakan untuk melatih orangtua menekankan hal-hal positif tentang perilaku anak-anak mereka.

Sebisa mungkin, orangtua harus berusaha menjaga anak pergi keluar, berjalan-jalan, bahkan bermain permainan di luar ruangan, meskipun mereka kurang antusias dengan kegiatan yang biasa dilakukan.

Selain itu, latihan fisik atau berolahraga ternyata memiliki manfaat bagi mental dan biologis pada anak.

Depresi tak selalu memberikan penjelasan sebab-akibat yang sederhana, tetapi Kovacs menekankan, dengan episode pertama pada seorang anak, hampir selalu ada faktor stres tertentu yang dapat memicu masalah.

Bisa jadi perubahan dalam konstelasi keluarga seperti perceraian orangtua, kematian atau bisa juga sesuatu yang lebih halus yakni kecemasan.

Jika seorang anak benar-benar memulai terapi, bagian dari perawatannya adalah mengidentifikasi dan membicarakan penyebab dari rasa stres itu.

Menemukan bantuan untuk anak yang depresi

Apabila kita khawatir anak-anak mungkin mengalami depresi, mulailah berkonsultasi dengan dokter anak atau penyedia perawatan primer lainnya.

Klinik dan pusat kesehatan tentu memiliki layanan kesehatan mental internal, dan kita mungkin dapat membawa anak-anak ke sana.

“Orangtua perlu melihat perjuangan anak-anak sebagai kesempatan untuk campur tangan.”

“Mayoritas masalah suasana hati anak usia dini akan hilang seiring waktu dengan pengasuhan yang sensitif, serta lingkungan yang mendukung,” ujar dia.

Sumber: Kompas.com

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Related Posts

Berita Terkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *