DELITIMES.ID – Ada ribuan wawancara yang telah saya lakukan sepanjang lebih dari tiga dasawarsa menjadi wartawan.
Ada pejabat yang berbicara penuh keyakinan. Ada tokoh masyarakat yang menyampaikan gagasan besar. Ada pula rakyat kecil yang mengungkapkan keluh kesah dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh. Sebagian wawancara berlangsung biasa saja. Sebagian lagi meninggalkan kesan mendalam.
Namun, harus saya akui, tidak banyak wawancara yang membuat saya kehilangan kata-kata.
Peristiwa itu terjadi di Asrama Haji Medan, sesaat setelah berakhirnya rangkaian pemulangan jamaah haji Sumatera Utara tahun ini.
Di hadapan saya duduk seorang Petugas Haji Daerah (PHD) Kloter 17 Sumatera Utara, Masdar Tambusai. Ia baru saja menyelesaikan tugas yang bagi banyak orang mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari sebuah pekerjaan. Namun dari sorot matanya terlihat bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar tugas administratif.
Awalnya wawancara berlangsung seperti biasa.
Saya menanyakan bagaimana pelaksanaan tugas selama di Tanah Suci. Ia menjawab dengan tenang. Tentang jamaah yang dapat beribadah dengan nyaman. Tentang makanan yang tersedia dengan baik. Tentang pelayanan yang berjalan sesuai kebutuhan jamaah. Tentang rasa syukur melihat para tamu Allah dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
Jawaban-jawaban itu penting. Tetapi semuanya masih berada dalam wilayah yang lazim dijangkau oleh bahasa.
Kemudian saya mengajukan satu pertanyaan yang sederhana.
“Bagaimana pengalaman spiritual yang Bapak rasakan selama melayani jamaah haji?”
Saya tidak menyangka pertanyaan itulah yang mengubah suasana.
Masdar terdiam.
Kalimat yang hendak keluar seolah tertahan di tenggorokan. Suaranya mulai bergetar. Matanya perlahan dipenuhi air. Beberapa detik kemudian ia sesenggukan.
Saya menunggu.
Tetapi yang datang bukan jawaban.
Yang datang adalah air mata.
Di situlah wawancara berhenti.
Secara naluriah saya berkata,
“Silakan saja menangis, Pak. Tidak apa-apa. Luapkan saja isi hati.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Namun sesungguhnya pada saat yang sama saya sedang berjuang menyembunyikan sesuatu yang juga sedang terjadi dalam diri saya sendiri.
Sebab entah mengapa, ketika melihatnya berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak sanggup dijelaskan oleh kata-kata, saya justru merasakan getaran yang sama mengalir ke dalam hati saya.
Sebagai wartawan, saya terbiasa menjaga jarak.
Profesi ini mengajarkan untuk mendengar tanpa larut. Mengamati tanpa kehilangan objektivitas. Menulis tanpa membiarkan emosi mengambil alih.
Tetapi hari itu, jarak tersebut perlahan menghilang.
Saya tidak lagi sekadar mendengar jawaban seorang narasumber.
Saya seperti ikut menyaksikan pergulatan batin yang sedang berlangsung di hadapan saya.
Masdar akhirnya berusaha menjelaskan.
“Ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Perasaan itu melampaui kata-kata,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana.
Namun justru kesederhanaannya yang membuatnya terasa begitu dalam.
Ia bercerita tentang kebahagiaan melayani jamaah. Tentang kepuasan melihat para lansia dapat beribadah dengan tenang. Tentang rasa syukur ketika kebutuhan jamaah terpenuhi dengan baik.
Tetapi ketika berbicara mengenai pengalaman spiritual, ia berulang kali kembali pada satu kesimpulan yang sama: tidak cukup kata-kata untuk menjelaskannya.
Ia mengenang saat melihat Ka’bah.
Ia mengenang saat berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Ia mengenang berbagai momen ketika air mata mengalir tanpa bisa dicegah.
Dan anehnya, ketika ia mencoba menceritakan kembali pengalaman itu, air mata yang sama kembali hadir.
Saat itulah saya mulai memahami sesuatu.
(Kekuatan air mata)
Mungkin memang ada pengalaman-pengalaman tertentu dalam hidup manusia yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh bahasa.
Kita dapat menuliskan peristiwanya.
Kita dapat mengutip kalimat-kalimatnya.
Kita dapat merekam suara dan gambar.
Tetapi ada bagian terdalam dari pengalaman manusia yang tidak pernah benar-benar dapat dipindahkan ke dalam kata-kata.
Bahasa hanya mampu mendekat.
Tidak pernah benar-benar sampai.
Sebagai wartawan yang telah bekerja selama 36 tahun, saya selalu percaya bahwa setiap peristiwa dapat dituliskan selama kita menemukan sudut pandang yang tepat.
Namun pengalaman mewawancarai Masdar membuat saya menyadari bahwa keyakinan itu memiliki batas.
Ada wilayah tertentu yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Wilayah di mana kalimat-kalimat terbaik sekalipun menjadi terasa kurang.
Wilayah di mana air mata justru lebih jujur daripada kata-kata.
Ironisnya, kesadaran itu muncul ketika saya sedang melakukan pekerjaan yang seluruh hidupnya bergantung pada kata-kata.
(Tidak semua tertuang)
Dan ketika saya kemudian duduk untuk menulis pengalaman ini, saya kembali merasakan kesulitan yang sama.
Saya menulis.
Lalu menghapus.
Menulis lagi.
Lalu memperbaiki.
Bukan karena saya tidak tahu apa yang ingin saya sampaikan.
Tetapi karena saya tahu apa yang saya tulis tidak pernah sepenuhnya mampu mewakili apa yang saya rasakan saat itu.
Mungkin pembaca dapat memahami kisah ini.
Mungkin pula pembaca dapat merasakan sebagian emosi yang hadir dalam wawancara tersebut.
Namun saya tetap merasa bahwa ada sesuatu yang tertinggal.
Sesuatu yang tidak ikut masuk ke dalam kalimat-kalimat ini.
Sesuatu yang hanya hadir dalam ruang sunyi antara seorang petugas haji yang sedang menahan tangis dan seorang wartawan yang diam-diam sedang menahan air matanya sendiri.
Dan barangkali di situlah pelajaran terbesarnya.
Bahwa tidak semua kebenaran hadir dalam bentuk kata-kata.
Ada yang hadir dalam getaran hati.
Ada yang hadir dalam keheningan.
Ada yang hadir dalam air mata.
Dan pada momen-momen tertentu, justru ketika kata-kata berhenti, hati mulai berbicara. (penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)















