Ilustrasi (foto/ist)

Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam

JAKARTA, DELITIMES.ID – Riset terbaru dari CDP mengungkapkan 55 persen kota dan daerah di dunia kini memanfaatkan solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.

Riset berjudul ‘Nature for People and Places’ menganalisis data dari 1.005 kota dan daerah di 80 negara, yang dihuni oleh sekitar 1,32 miliar jiwa.

Dikutip dari Kompas, Senin (24/8/2026), laporan menemukan bahwa mayoritas daerah tersebut telah menerapkan minimal satu solusi berbasis alam, seperti pemulihan ekosistem, pembangunan fasilitas hijau, hingga penanaman hutan kembali.

Selain itu, ditemukan pula bahwa 70 persen pemerintah daerah yang memiliki target penanganan iklim menjadikan solusi berbasis alam sebagai prioritas utama mereka.

Ancaman iklim

CDP menemukan bahwa cuaca panas ekstrem, banjir perkotaan, dan hujan lebat menjadi ancaman iklim paling berbahaya yang dihadapi oleh pemerintah daerah saat ini.

Misalnya saja, menurut laporan terbaru dari Walikota London dan Dewan Kota London, London berisiko mengalami kerugian hingga 36 miliar Poundsterling setiap tahunnya pada 2050 akibat dampak perubahan iklim.

Kerugian ini mencakup penurunan produktivitas kerja, beban berlebih pada rumah sakit dan layanan darurat, gangguan bisnis, serta kerusakan fasilitas umum.

“Ada potensi kerja sama yang sangat besar antara aksi penanganan iklim dan penggunaan solusi alami. Di tengah anggaran pemerintah yang makin terbatas, pemerintah daerah harus bekerja lebih hemat dan efisien,” ungkap Direktur Pusat Iklim ICLEI Maryke van Staden.

“Mereka memiliki peluang untuk menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak dengan menggabungkan aksi penanganan iklim dan perlindungan alam. Taman dan ruang terbuka hijau membantu mendinginkan suhu kota. Atap dan dinding yang ditanami tumbuhan bisa menahan panas gedung. Pilihan aksi yang bisa dilakukan sangatlah banyak,” katanya lagi.

Pilihan solusi berbasis alam yang digunakan sendiri berbeda-beda di setiap wilayah tergantung risiko lingkungan yang dihadapi.

Pemerintah di Amerika Latin dan Afrika paling fokus pada pemulihan alam yang rusak. Pemerintah di Eropa dan Amerika Utara lebih fokus membangun fasilitas hijau seperti taman kota dan atap bernuansa tumbuhan. Sementara itu, pemerintah daerah di Asia Tenggara, India, dan Jepang lebih fokus pada penanaman hutan kembali.

Data menunjukkan bahwa fokus pada kelestarian alam turut meningkatkan kesehatan masyarakat. Sebanyak 65 persen pemerintah daerah mencatat adanya manfaat kesehatan, mulai dari udara yang lebih bersih hingga kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

Hal ini secara langsung membantu mengatasi masalah kesehatan utama yang dikhawatirkan pemerintah, seperti penyakit jantung dan gangguan pernapasan.

Kendala Anggaran

Meskipun memiliki banyak manfaat, masih ada kekurangan dana yang besar untuk menjalankan proyek adaptasi iklim ini. Sebanyak 46 persen pemerintah daerah melaporkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama mereka untuk melangkah lebih jauh.

Pada tahun 2025, pemerintah daerah di berbagai belahan dunia mengajukan dana sebesar 33,51 miliar Dolar AS untuk proyek adaptasi iklim, dengan 2,85 miliar Dolar AS di antaranya khusus digunakan untuk proyek yang berhubungan dengan alam.

“Perubahan iklim dan kerusakan alam bukanlah dua masalah yang terpisah. Saat dampak iklim makin parah, ekosistem yang rusak membuat masyarakat makin rentan. Kota dan daerah makin sadar bahwa menjaga alam dan melawan perubahan iklim adalah dua hal yang saling berkaitan rapat,“ papar Katie Walsh, Direktur Global untuk Kota dan Daerah CDP.

“Data kami menunjukkan bahwa hal ini bukan lagi sekadar niat, melainkan sudah menjadi aksi nyata. Solusi berbasis alam kini jadi langkah utama, bukan lagi sekadar program pilihan. Saat aksi nyata ini mulai diterapkan secara luas oleh pemerintah daerah, membuka akses pendanaan yang sangat mereka butuhkan menjadi tugas mendesak bagi para investor dan pemerintah,” tambahnya.

Sebagai contoh, Kota London diperkirakan membutuhkan dana sebesar 75 miliar Poundsterling demi mencapai target bebas emisi pada tahun 2030. Kota-kota lain yang langkah pelestarian lingkungannya masih tertinggal tentu akan membutuhkan dana yang jauh lebih besar.

Jaringan kota dunia C40 Cities memperkirakan bahwa kota-kota di negara berkembang saja membutuhkan dana sebesar 147 miliar Dolar AS setiap tahunnya hingga tahun 2030 untuk adaptasi iklim, dan angka ini akan naik menjadi 165 miliar Dolar AS per tahun setelahnya.

Jumlah dana yang tersedia saat ini masih sangat jauh dari kebutuhan tersebut. Modal dari sektor swasta yang biasanya menopang sebagian besar pembangunan fasilitas umum dunia saat ini masih sangat minim masuk ke sektor ini.

“Data lingkungan yang terbuka dan jujur dapat membantu para mitra melihat wilayah mana saja yang paling membutuhkan investasi, lalu menyalurkan modal tersebut ke proyek-proyek yang mampu melindungi masyarakat dari bencana,” jelas Walsh. (REL)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini