Tiga Akademisi Medan Gebrak Nasional, Dorong Lahirnya UKW Khusus Wartawan Siber

DELITIMES.ID – Sebuah gagasan tentang masa depan kompetensi wartawan sedang tumbuh dari Medan. Tiga akademisi yang memiliki latar belakang sebagai wartawan itu menawarkan pemikiran agar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tidak berhenti pada standar jurnalistik yang selama ini berlaku.

Akan tetapi mulai menyesuaikan diri dengan karakter media siber yang berkembang begitu cepat.

Mereka adalah Dr. Dedi Sahputra, S.Sos., MA, Dr. Zakaria Siregar, S.Sos., MSP, dan Dr. Faiji Wikanda, S.Pd.I., M.Pd.I.

Yang membuat gagasan ini menarik bukan semata-mata karena datang dari kalangan akademisi. Ketiganya memahami dunia pers dari pengalaman jurnalistik. Terutama Dr. Dedi Sahputra, yang hingga kini masih aktif di ruang redaksi salah satu media besar di Medan.

Dengan demikian, gagasan yang mereka bangun mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: pengalaman praktis wartawan dan refleksi akademik tentang perkembangan media.

Dari pertemuan itulah lahir penelitian yang menawarkan gagasan tentang perlunya model UKW khusus media siber.

Gagasan tersebut dipaparkan dalam Workshop Desain Model Materi UKW Khusus Media Siber yang digelar bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Utara di Hotel Grand Sakura, Medan, Sabtu (22/8/2026),

Workshop itu dihadiri Ketua SMSI Sumut Erris J Napitipulu berjudul “Implementasi SEO untuk Peningkatan Ketrampilan Wartawan Menghasilkan Produk Jurnalistik dengan Konten Etika dan Hukum Pers dalam Mendorong Keberlanjutan Media Siber.”

Namun, membaca penelitian ini semata-mata sebagai penelitian tentang SEO tentu terlalu menyederhanakan persoalan.

Yang sedang mereka tawarkan sesungguhnya adalah pembaruan cara pandang terhadap kompetensi wartawan di era digital.

UKW Tak Boleh Tertinggal Zaman

Dunia jurnalistik berubah sangat cepat.

Ketika standar kompetensi wartawan dirumuskan, ekosistem media tidak lagi hanya terdiri atas surat kabar, radio dan televisi. Kini terdapat ribuan media siber yang bekerja dalam lingkungan digital dengan karakteristik yang berbeda.

Berita tidak berhenti setelah diterbitkan.

Setelah sebuah berita dipublikasikan, ia harus bersaing dengan jutaan informasi lain untuk mendapatkan perhatian pembaca. Mesin pencari, media sosial, algoritma distribusi, data perilaku pengguna dan berbagai teknologi digital ikut menentukan apakah sebuah karya jurnalistik ditemukan atau justru tenggelam.

Di sinilah pertanyaan tiga akademisi tersebut menjadi penting:

Jika karakter medianya berubah, apakah kompetensi wartawannya tidak perlu ikut berubah?

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi implikasinya besar.

UKW tidak cukup hanya memastikan wartawan mampu mencari fakta, melakukan wawancara, melakukan verifikasi, menulis berita dan memahami etika serta hukum pers.

Semua itu tetap merupakan fondasi.

Tetapi wartawan media siber juga harus memahami lingkungan digital tempat karya jurnalistiknya hidup.

Di sinilah gagasan UKW khusus wartawan siber menjadi relevan.

Bukan Sekadar Menambah Modul SEO

Salah satu pintu masuk penelitian ini adalah SEO atau Search Engine Optimization.

Tetapi SEO dalam gagasan ketiga peneliti tersebut tidak ditempatkan sebagai teknik untuk sekadar mengejar klik.

SEO dipahami sebagai salah satu kemampuan yang memungkinkan karya jurnalistik berkualitas ditemukan oleh masyarakat yang membutuhkan informasi tersebut.

Ini perbedaan yang sangat penting.

Sebab apabila SEO hanya dipahami sebagai cara mendapatkan trafik, wartawan dapat terjebak pada logika popularitas.

Judul dibuat semakin sensasional.

Kata kunci dipaksakan.

Berita dibuat mengikuti apa yang sedang ramai.

Bahkan kepentingan publik dapat dikalahkan oleh apa yang dianggap paling mudah mendatangkan klik.

Padahal jurnalisme tidak dibangun untuk mengejar popularitas semata.

Jurnalisme dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang benar, penting dan dapat dipercaya.

Karena itu, gagasan yang ditawarkan ketiga peneliti tersebuth bukanlah “wartawan harus menulis untuk mesin.”

Sebaliknya:
Wartawan tetap menulis untuk manusia, tetapi memahami bagaimana mesin bekerja agar karya jurnalistiknya dapat ditemukan manusia.
Di sinilah SEO memperoleh tempat yang proporsional. (Rel)

Bagikan :

Related Posts

Berita Terkini