MEDAN – Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi meminta wartawan yang mengikuti kegiatan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) angkatan ke-V yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI di Medan, Sumatera Utara, untuk memperbanyak kamus kosakata di diri sediri, agar lebih mudah dalam menulis berita.
Menulis, katanya, adalah keterampilan yang membutuhkan latihan konsisten dan disiplin dalam membangun keunikan gaya. Dalam prosesnya, salah satu kunci yang sering terlewat adalah pentingnya memperhatikan tulisan secara detail.
“Setiap kata harus dipilih dengan cermat, agar kalimat terstruktur dengan rapi dan membawa pesan yang jelas. Jangan takut untuk mengeksplorasi kosakata baru yang bisa diambil dari film, buku, atau percakapan sehari-hari,” ungkapnya.
Menurut wartawan yang pernah meraih penghargaan Adinegoro Award itu, inspirasi bisa ditemukan dari mana saja, tetapi pengolahan ide menjadi sesuatu yang orisinal adalah tanggung jawab penulis. Dalam dunia jurnalistik, mengutamakan fakta dan data adalah pondasi utama. Mengarang bebas tanpa dasar yang jelas hanya akan menurunkan kualitas tulisan.
“Seorang wartawan atau penulis yang baik selalu mengutamakan keakuratan, karena kepercayaan adalah modal terbesar dalam bisnis menulis. Saat seseorang mulai menyalin karya orang lain tanpa memberikan nilai tambah, dia telah kehilangan integritasnya sebagai penulis,” bebernya.
Ia mengaku, menulis dengan baik, tidak harus panjang. Tetapi perlu efisien. Setiap kalimat harus bermakna, setiap paragraf harus menyampaikan gagasan baru.
“Jika Anda merasa kesulitan, mungkin masalahnya ada pada kurangnya kosakata. Untuk itu, membiasakan diri membaca dan mencatat kata atau frasa baru bisa sangat membantu. Kosakata adalah alat utama dalam menulis, dan semakin banyak variasi kata yang dikuasai, semakin mudah menyampaikan ide dengan jelas dan menarik,” imbuhnya.
“Menulis bukan soal menciptakan sesuatu yang tidak pernah ada, tetapi lebih tentang mengolah realitas menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami dan dinikmati,” tukasnya. (ts)
























